Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3

Admin | July 29, 2017
Bab 3: Juni itu Melankolis
"Aku tidak bisa tidur...."

Setelah berguling-guling dikasurnya beberapa kali, Sorata mencoba untuk mengungkapkan situasinya dengan wajah yang terkubur dengan bantal.

Walau dia melakukannya, tidak ada yang terjadi, dan tidak ada yang akan berubah juga. Dia melihat jam di Handphone-nya. Jam Dua Malam. Sudah dua jam dia mencoba untuk tidur.


Sorata tidak punya pilihan lain, jadi dia bangun dengan malas dan menyalakan lampu.

Cahaya dari lampunya terlalu terang. Matanya tidak bisa menyesuaikan diri dengan cahaya terang dan rasa pusing memukulnya. Matanya yang menyuruhnya untuk tidur, tapi pikirannya, tanpa alasan yang jelas, masih sangat jernih. Perasaan ini mencegahnya untuk bisa tenang.

Si kucing coklat, Tsubasa, mengangkat kepalanya dengan cara yang menganggu. Kucing itu melotot ke Sorata beberapa saat, dan menutup matanya setelah menguap besar. Duduk diatas kasurnya, Sorata meringkuk seperti posisi berdoa.


"Kuharap kau bisa berbagi rasa kantukmu itu."


Bahkan setelah dia menutup matanya beberapa saat, Sorata tidak merasa kantuk sama sekali. Yang ada, otaknya berkerja keras untuk mencari kata-kata untuk mengkritik tindakan bodohnya. Setelah mendesah, dia menggosok kedua matanya.


Mengapa Sorata tidak bisa tidur, walaupun matanya terasa sakit karena terus terbuka? Dalam seminggu, setiap malam selalu saja begini.

Bagaimana Aku tertidur? Dan bagaimana caranya Aku tidur seperti bisaanya?


Setelah merenungkan tentang hal-hal yang ‘tak berarti seperti itu, entah bagaimana dengan cepat dia memikirkan apakah dia memang harus atau tidak pindah dari Asrama Sakurasou. Mengetahui bahwa masalah tidak dapat diselesaikan hanya dengan memikirkannya dia mencoba untuk memasuki dunia mimpi, tetapi proses ini diulang lagi dan lagi.

Jawabannya sudah jelas.


Dia bahkan tidak tahu mengapa dia mengkhawatirkan hal itu. Kekhawatiran itu menimbulkan pertanyaan baru yang mana itu menghentakkan Sorata. Dia telah kehilangan waktu tidurnya terus menerus.


"Ah, Sial!"


Tidak melakukan apa-apa akan membuat dia menjadi terlalu terlibat dalam pikirannya dan itu akan berpengaruh negatif. Jadi dia berpikir untuk melakukan sesuatu, ia mengambil Pakaiannya, dan ia membentuk sebuah bukit kecil di tempat tidurnya.


Dia mulai melipatnya satu-per-satu dengan hati-hati. Saat dia sedang melipat pakaian, dia tidak perlu berpikir. Tapi beberapa saat kemudian, semua pakaian miliknya telah dilipat dan tinggal punya Masihiro yang ada.


Dia melipat Jas Sekolah berwarna biru agar tidak berkerut, dan dia letakkan juga yang hitam, memasangkan semua kaus kaki. Dia ingin melipat sisa pakaian yang ada, tetapi setelah dia mengambil sesuatu yang kebetulan sebuah Kamisol bertali hitam, Sorata langsung kehilangan kesadarannya. Itu hanya sepotong kain.


Bahkan ketika dia menahan dirinya dia tidak bisa menahan instingnya sebagai seorang lelaki, dengan bodoh dia membayangkan Mashiro memakainya, dan langsung merasa bersalah. Seolah-olah ingin memberikan pukulan terakhir, lawan berikutnya adalah celana dalam hitam yang cocok dengan kamisol hitam tadi. Itu adalah kekalahan yang besar. Setelah menyadarkan pikirannya, dia mengintropeksi diri.


"Jika seseorang melihatku, pasti mereka akan berpikir kalau Aku itu mesum."


Dia dengan cepat melipat bagian ujung dan menggulung celana dalam itu. Dia menjepit celana dalam itu diantara jas dan handuk sehingga itu tidak terlihat. Bahkan jika celana dalam dan kamisol itu berserakan dikamar Mashiro, itu adalah tugasnya Sorata untuk membereskannya. Yah, membersihkan kamar itu jugalah tugasnya Sorata sebagai orang yang bertanggung jawab atas Mashiro.


Jika Sorata pindah dari Sakurasou, Jin lah yang akan bertanggung jawab atas semua hal ini. Jin akan menyentuh pakaian dan yang lainnya, dan tidak akan lari dari keyataan seperti Sorata. Tidak peduli situasinya, dia akan bisa menyelesaikannya dengan pintar. Jin memang orang yang seperti itu. Namun, bahkan Sorata tidak ingin membayangkan Jin mengurus Mashiro.


"Apa yang Aku pikirkan... Ini bukan Itu."


Yang harusnya dia pikirkan adalah apakah dia memang harus atau tidak pindah dari Sakurasou. Dia punya tanggung jawab (mengurus Mashiro), tapi dia juga punya masalahnya sendiri, jadi Mashiro seharusnya tidak berefek pada pendiriannya. Tapi untuk beberapa alasan, dia selalu memikirkan Mashiro. Disaat Sorata bilang kalau dia ingin pindah, Mashiro tidak menunjukkan emosi seperti biasanya. Apakah dia sedang senang atau bersedih, itu sama saja. Jadi Sorata tidak tahu apa yang Mashiro pikirkan.


Menyadari bahwa dia tidak bisa mempertahankan kewarasannya disaat hal itu berputar-putar di kepalanya, dia melompat. Jika dia tidak bisa tidur, Ia hanya bisa terus terbangun. Jika dia tetap berada dikamar ini lebih lanjut, ia mengira sesuatu hal yang buruk akan terjadi padanya, jadi dia pergi ke dapur untuk mengambil segelas air.


Mengejutkan, seseorang sudah ada disana pada jam dua dini hari. Bayangan dari seseorang yang duduk didepan kulkas dan sedang mengisi perutnya. Itu Piyamanya Mashiro. Wajahnya terlihat lelah dan mengantuk, tapi dia mengambil sebuah wortel dari kulkas dan memeriksanya dengan teliti. Ternyata dia tak menyukainya jadi dia masukkan lagi makanan yang disukai kelinci itu, dan mengambil sebuah mentimun sekarang. Sama seperti tadi, dia memeriksanya dengan teliti, dan berpikir tentang hal itu beberapa detik. Setelah dia selesai berpikir, Ia dengan cepat menggigit mentimun tersebut.


"Kau itu Kappa[1] ya?!"


Menggigit Mentimunnya, Mashiro menengok ke Sorata dengan wajah datar. Dia tidak terlihat terkejut. Dia tetap menggigit Mentimunnya.


"Apa kau memang selapar itu?"


Mashiro menganggukkan kepalanya sambil memakan mentimun.


"Aku mengerti, jadi berhentilah makan! Aku akan masakkan sesuatu untukmu!"


Mashiro menelan mentimun itu.


"Aku bukan Kappa."

"Aku tahu itu!"


Mendapati Mashiro duduk dimeja dapur, Sorata melihat kedalam kulkas demi Mashiro. Baru-baru ini, berkat mengurus Mashiro, skill memasak Sorata telah meningkat dan jenis menu yang bisa dia buat bertambah. Namun, memasak sesuatu di jam segini akan membuat Chihiro marah, jadi dia memutuskan untuk membuat sebuah Cup Ramen dari lemari makanan.


Setelah mendidihkan air dengan teko berwarna oranye yang dibeli Misaki, dia menuangkan air panas itu kedalam cup ramen. Dia menaruhnya dimeja dimana Mashiro sedang menunggu. Mashiro mencoba untuk memakan Ramen segera setelah cup ramennya menyentuh meja jadi Sorata menahan Mashiro untuk mengambilnya.


"Tunggu sampai 3 menit!"


Sorata terkejut, sepertinya Mashiro tidak tahu apa-apa tentang Cup Ramen sebelumnya. Sorata duduk disebelah Mashiro. 3 Menit menunggu rasanya lebih lama dari biasanya. Mashiro, yang tengah konsentrasi menatap ramennya, tidak mengatakan apa-apa. Sorata juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Sudah jelas alasan mengapa Mashiro terjaga sampai saat ini. Dia menggambar manganya seperti biasa. Dan dia keluar karena dia merasa lapar.


Beginilah kehidupan sehari-hari Mashiro. Setelah datang ke Sakurasou, aktifitas sehari-harinya tidak terlalu banyak berubah. Dia menggambar manganya sampai hampir pingsan, dibangunkan oleh Sorata dan pergi ke sekolah, dan disaat dia kembali ke asrama, dia mengunci diri didalam kamar dan kembali menggambar.


Pada umurnya, itu normal bagi seorang gadis untuk bergosip tentang memiliki pacar, atau putus dengan orang jahat seperti dia, atau memiliki rambut yang sangat indah, atau membeli sebuah baju dari beberapa tempat, atau pergi ke karakoke, atau mengatakan kalau mereka putus, atau mereka butuh diet, atau bilang kalau hari ini adalah yang terburuk, atau mereka frustasi hari ini, atau berbicara tentang seseorang yang mengikuti mereka seharian, setiap hari. Tapi Mashiro, menjauhi hal-hal tersebut dan berkerja menuju tujuannya dengan tangannya sendiri. Bagi Sorata, Mashiro sangatlah bersinar. Itu hampir menyakitkan untuk mengawasinya. Jika ada cahaya yang menyilaukan didepanmu, siapapun akan mulai menyipitkan mata dan mengasihani diri sendiri.


"Sorata."

"Ah, ya. Apa?"

"3 menit?"

"Kau bisa memakannya sekarang."


Membuka tutup dari Cup Ramen, Mashiro mulai memakan isinya. Merasa tidak enak dengan kesunyian ini, Sorata mencoba untuk memulai pembicaraan.


"Ano...penghargaan untuk pemula yang kau bicarakan sebelumnya, kapan itu ditutup? "

"... Sekitar akhir Bulan Juni."

"Benarkah. Ohh."

"... Ya."

Itu sekitar satu setengah bulan lagi..

"Yah kau tau... uh, tidak ada banyak waktu yang tersisa."

"..."

"Tidak, bukan apa-apa."

"... Ya."

"Aku jadi ingat. Berapa orang yang berpartispasi?"

"700 atau 800..."

"Ooh."

"... Ya."


Tempo pembicaraan kami berhenti. Orang yang membuatnya turun adalah Sorata.


- Aku tidak punya apa-apa untuk kukatakan kepada Sorata yang mau pergi begitu saja. Jika Sorata langsung perrgi dari meja dapur, mungkin Mashiro akan mengutuk Sorata dengan garis kata seperti itu untuk membuatnya takut tanpa sadar. Bahkan setelah Mashiro selesai makan, dia tetap duduk di kursinya. Kesunyian dan rasa canggung memenuhi mereka berdua. Sorata tidak bisa melihat ke wajah Mashiro. Jika mata mereka bertemu, Sorata akan mengeluarkan suara-suara aneh. Dia mencoba untuk pergi dari meja dapur secepatnya. Tapi saat memikirkan hal ini, pergi duluan membuat dia merasa tak enak, jadi dia tetap disini.


- Lakukan yang terbaik. Dia bisa saja kembali jika Sorata mengatakan garis kata ini. Namun, dia tidak bisa melakukannya. Sebaliknya, dia bisa mengatakan kata-kata selain garis kata itu. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakan hal itu. Orang yang berkerja keras disini adalah Sorata. Mashiro memiliki tujuan yang jelas, dan dia berlari menuju tujuan itu. Dia sudah melakukan yang terbaik. Itu terlalu menyedihkan untuk menunjukkan kekosongan dirinya (Sorata).


Disaat dia sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba ada suara dari pintu masuk. Menengok kebelakang untuk melihatnya, ternyata itu adalah Jin yang berdiri disana sambil menahan kantuknya. Sepeti biasa, ada bekas lipstick dibajunya. Jin melihat Sorata dan Mashiro dan menanyakan pertanuyaan kepada mereka.


"Apa yang kalian berdua lakukan?"

"Tidak, kami hanya,"

"Apa yang kau maksud, 'kami hanya', kalian berdua terlihat seperti pasangan yang mau menandatangani surat perceraian."

"Ah, benarkah?"

"Hey, tidak baik kalau kau tidak membalas lelucon ku."


Pada saat itu, Mashiro berdiri.


"Terimakasih atas makanannya."


Dia meninggalkan dapur hanya dengan kata-kata itu. Dia pasti akan menggambar manganya lagi dikamarnya di lantai atas. Dengan diam melihat Mashiro yang kembali kekamarnya, dan dia hampir tidak terlihat lagi, Jin berbicara pada Sorata.


"Hey Sorata."

"Ya?"

"Kalau kau memang tidak ada niat, Aku akan mengurus Mashiro kau tahu."

"... Ughh!"



Dia tidak bisa mengeksprsikan dirinya dalam kata-kata, tapi tubuhnya menjawab dengan melihat langsung Jin. Jin menikmati reaksi Sorata dengan senyum diwajahnya.


"Kau mencoba tuk bilang 'Apa yang kau ingin Aku lakukan?’ iya kan? "

"Apa yang kau ingin Aku lakukan?"

"Jika kau tidak ingin kehilangan dia, uruslah dia baik-baik. "

"Shiina itu bukanlah..."

"Lalu apa?"

"Apa maksudmu...?”



Ia kira dia mampu ‘tuk menjawabnya, tapi dia tidak punya keyakinan. Jika dia mengatakannya, dia tak akan bisa menyangkalnya. Dia tidak bisa lari. Tapi apakah itu berarti dia tau kemana arah hatinya…


"~Huh? Jin, kau sudah pulang. Selamat datang~"


Orang yang menyelamatkan Sorata adalah Misaki yang masih terlihat mengantuk. Misaki yang memegang pensil untuk tanpa alasan itu memberitahu Jin kalau Misaki sedang berkerja dengan beberapa naskah cerita.



"Yeah, Aku pulang."

"~Aku haus~"


Menghiraukan atmosfir disini, Misaki berjalan ke arah kulkas, mengambil botol air mineral 2 liter dan mulai meminumnya. Melihat sekeliling, Misaki menawarkan botol itu kepada Sorata.


"Apakah Kouhai-kun juga mau minum?"


Saat Sorata ingin mengambil botol itu, Jin menghalanginya. Jin meminum semua sisa air yang ada di botol itu dan memberikan botol kosongnya ke Misaki dan pergi, mengucapkan selamat malam. Misaki menatap mulut botol itu dan membeku di kursinya.


"A-, Apa yang harus Aku lakukan Kouhai-kun..."


Dia membisikkannya seakan-akan hatinya ada di tempat yang lain


"Ini.. adalah ciuman tidak langsung... dengan J-Jin..."


Sepertinya dia tidak mengharapkan jawaban dari Sorata, dan dia terbangun dan mulai berjalan dengan goyah menuju kamarnya, menabrak kulkas, meja, dan tembok. Sorata yang ditinggalkan akhirnya kelelahan dan ambruk dikursinya. Kulkas dengan daftar tugas itu adalah yang dia lihat. Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah label bertuliskan "Tugas Mashiro"


Jika dia tetap mendekat, Ia merasa seolah-olah akan meledak dan terbakar oleh kecemerlangan Mashiro. Tapi dia tidak mau meninggalkan Sakurasou dan meninggalkan semuanya ketangan Jin. Aku ingin sekali pergi dari tempat ini secepatnya… jika dia tetap berpikir tentang hal itu terus menerus, emosi dan etikanya bertabrakan, menyebabkan gangguan.


Sudah jam 3 Dini hari. Dengan semangat jarum di jam tangan bergerak dengan lambat. Pagi akan menyapa semua orang. Namun, untuk Sorata yang tidak bisa lari dari gelapnya malam, datangnya pagi masih lama, masih sangat lama.


Bagian 2[edit]
"Oh, beri itu istirahat, kau."


Ini terjadi pada suatu hari dibulan Juni dimana Chihiro memanggil Sorata ke kantor guru.


"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu."


Chihiro menyilangkan kaki dan lengannya dan duduk di kursi dengan wajah yang mengatakan kalau dia tidak dalam keadaan yang baik.


"Kebetulan sekali. Aku juga ingin mengistirahatkannya juga. "


Lelucon yang dibuat untuk membuat emosi Chihiro mereda malah membuat Chihiro marah padanya.


"Ini bukan tentang Survey Karir masa depan itu lagi kan? "


Sekali lagi, dia melempar pertanyaan untuk memastikan situasi.


"Aku tidak memanggilmu untuk hal sekecil itu. "

"Tidak, tapi Aku pikir ini sama pentingnya dengan sebuah kardus kosong yang seharusnya berisi telur."


Apa yang Chihiro khawatirkan sebenarnya adalah fakta bahwa keadaan di Sakurasou itu sama mendungnya seperti cuaca dibulan Juni. Walaupun langit biru masih terlihat, awan gelap segera menutupi langit. Hujan yang membawa hawa lembab dan udara yang berat yang menempel dikulit dan tak bisa dihindari selama sebulan, membuat kulit lengket. Itu semua karena Sorata.




- Aku akan keluar. Itulah yang Aku inginkan sejak awal.


Ini semua berawal dari kata-kata itu. Tak terhitung berapa kali Sorata bilang begitu, dan setiap waktu, itu membuat dirinya merasa kesal. Dia tau kalau tidak akan mudah untuk pindah jika dia menyadari fakta-faktanya terlebih dahulu. Namun, bisa atau tidaknya dia benar-benar dapat membuat sebuah keputusan adalah masalah yang berbeda. Jin ditangan lain, mulai kembali ke Sakurasou dalam 4 hari perminggu untuk membuktikan janjinya. Dan juga, kerja keras selama sebulan untuk menemukan majikan baru untuk kucing-kucingnya sudah selesai, karena dia bilang sudah menemukan empat calon majikan baru.


Memang sangat berbeda dari kepribadiannya, tapi setiap pagi, bukannya sebuah ucapan selamat pagi, Jin selalu menanyakan Sorata apakah dia sudah membuat keputusan atau belum.


"Aku masih berpikir tentang hal itu."


Disaat Sorata menjawab demikian, Jin menepuk pundaknya dan membalas.


"Pikirkan hal itu baik-baik, Kohai-kun."


Berkat Jin, Sorata masih jauh dari lautan dalam yang kelam dan bertahan. Misaki memperlakukannya dengan cara yang sama sebelumnya, dan dia sering berbicara dengan Ryunosuke lewat email. Tapi tiga hari yang lalu, Ryunosuke memberikan sebuah pemberitahuan kecil.


- Kanda memegang sebuah senjata beracun yang mengelilingi Sakurasou. Aku ingin kau cepat membuat keputusan. Tidak usah dibalas. Tunjukkan saja hasilnya.


Itulah pesan yang tiba-tiba datang. Dia mengatakan ratusan hal-hal lain untuk Sorata, tapi disaat dia membalas dengan cara yang membingungkan,


- Jika kau terus mengatakan hal-hal membosankan, Akan ku buang kau ke Teluk Sagami. Dari Maid-chan yang menyarankan Teluk Sagami karena lebih dekat dari Teluk Tokyo.


Bukankah itu adalah jawaban yang sangat tidak lucu? Tapi masalah utamanya adalah Keadaanya dengan Mashiro. Membangunkannya dipagi hari, membuat sarapan, membelikannya baumkuchen disaat dia bilang ingin makan itu adalah keseharian mereka yang tidak berubah, tapi disaat mereka sedang dalam sebuah obrolan, mereka tidak bicara dalam ketepatan yang sama.


"Sudah pagi, Shiina."

"... Pagi."

"Yeah, pagi."

"....."

"....."


Selalu ada kesunyian yang canggung didalam obrolan mereka.


"Cuaca hari ini sangat cerah ya."

"Kau benar."

"..."

"..."



Sorata ingin berbicara sesuatu, tapi dia menahannya. Disisi lain, jika Mashiro tidak merasakan apapun, itu menempatkan Sorata dalam situasi yang membingungkan. Jarak diantara mereka, yang Sorata tidak terlalu memikirkannya, membesar dan menutupi Sakurasou dengan atmosfir yang berat. Dan akhirnya, setelah mecapai batasnya, Chihiro memanggil Sorata. Itu cukup serius bagi Chihiro yang biasanya tidak peduli tentang apapun untuk memasukinya. Hal ini belum pernah terjadi hingga sekarang.


"Kanda, apakah kau mendengarku?"


Responnya ke Chihiro, seperti orang mabuk.


"Apa yang membuatmu tertekan, bahkan Aku belum pernah melihat langsung atmosfer yang seperti sebuah keluarga yang ingin bercerai?"

"Takatsu, yang istrinya kembali ke keluarganya bulan lalu itu memelototimu seperti seolah-olah kau itu musuhnya, jadi harap jaga kata-katamu."

"Istrinya lari karena mereka menikah."

"Ya tuhan, ada apa dengan kau."

"Kau tahu, untukku, Aku tidak peduli dengan masalah orang lain, tapi jangan bawa Aku ke masalah itu."

"Apakah itu sesuatu yang bisa diucapkan oleh seorang guru didalam Kantornya?!"

"Aku tak perlu memperhatikan orang lain, jika Aku belum menikah."

"Tapi, kau memberitahuku kalau itu yang kau inginkan sebelumnya."

"Jangan khawatirkan hal-hal kecil."

"Tolong berilah perhatian lebih kepada hal-hal kecil juga!"


Setiap guru dan murid yang ada diruangan ini memalingkan perhatian mereka pada Sorata dan Chihiro. Semua orang berpura-pura melakukan pekerjaan mereka sambil mendengarkan dan memengambil pandangan cepat pada kedua orang itu. Yang lain melihat masalah Sorata dengan tidak peduli. Tak ada orang yang ingin masuk kedalam masalah ini.


"~Yay, dia sudah diomeli. Itu adalah hukuman dari tuhan karena tidur saat pelajaranku.~"


Tidak, ada satu orang. Duduk didepan Chihiro. Dia adalah Shiroyama Koharu yang mengajar Bahasa Jepang, menikmati adegan ini. Dia tidak mencoba untuk menyembunyikannya. Dia menikmati dirinya sepenuhnya.


"Kau, diamlah. Para murid tidur saat pelajaranmu karena berpikir kau itu bodoh."

"Kasar sekali. Bukankah Chihiro ada dipihakku?"


Dia menggembungkan pipinya seperti anak kecil. Sorata bingung apakah hal yang baik atau tidak bagi kedua orang ini, wanita tiga puluh tahunan bertingkah-laku seperti ini.


"Kanda."

"Kenapa?"

"Aku akan memberikanmu tugas."

"Eh, kenapa?!"

"Itu hukumanmu karena membuatku kesal."

"Wow, kau menyalahgunakan otoritasmu sebagai seorang guru."

"Itu pilihanmu kalau kau ingin pergi dari Sakurasou, tapi bersihkanlah kekacauan yang kau buat. Apapun yang kau pilih. Aku sangat benci untuk membersihkan kekacauan yang telah kau perbuat.

"Baiklah."

"Kalau kau tidak bisa, Aku akan memberikanmu hukuman untuk menikahi antara aku atau Koharu."

"Wow, itu adalah hukuman yang paling buruk yang pernah kudengar."

"Kanda, bisakah kau menjelaskan tentang dirimu?"

"Ya, Kanda. Seperti yang kau lihat, Aku adalah wanita yang baik, dan juga Koharu tidak terlihat seperti itu, dia akan melakukan yang terbaik diranjang dan menyenangkanmu."

"Apa yang kau katakan didalam Kantor Guru?!"

"Tidak apa. Guru disini semuanya orang dewasa, jadi mereka akan mengira kalau itu hanya lelucon."


Lalu, Mengapa guru sejarah tersedak oleh kentang manis yokannya? Itu juga aneh karena guru fisika tiba-tiba melompat karena dia ketumpahan teh panasnya. Apakah hanya perasaan Sorata kalau semua guru laki-laki melihat dengan tatapan aneh ke Koharu.


"Hmm, Kanda, Aku suka pria yang lebih cute. Tapi Aku bisa hampir meloloskanmu dalam hal itu. Lagian tidak ada yang tertarik padaku juga."

"Sensei, tolong hentikan Shiroyama-sensei. Dia sudah keluar dari jalurnya!"

"Tidak, Aku tidak mau mengganggu kalian."

Sorata sudah menduga jawaban itu.

"Kesampikan hal itu, bukankah wanita itu sedang menunggumu?"


Melihat keluar jendela, Mashiro sedang berdiri didekat pintu. Dia berdiri sambil memegang payung berwarna merah yang tidak terlalu cocok untuknya.


"Jangan ganggu diriku lagi."

Sorata mendengar dia di belakang punggungnya ketika ia keluar dari kantor.


Sorata pergi menuju kelasnya untuk mengambil tas miliknya, dan disaat dia berjalan keluar dari sekolah, dia bisa mendengar Jejak-kakinya Mashiro dibelakangnya. Sorata kembali berjalan di aspal, yang sudah menghitam karena hujan, dengan kecepatannya sendiri. Disaat jarak diantara mereka membesar, Mashiro berlari kecil dibelakang Sorata untuk mengejar. Walaupun dia mengetahuinya, Sorata tetap berjalan dan ingin meninggalkan Mashiro dibelakangnya.


Dia bisa merasakan bahwa Mashiro ingin mengatakan sesuatu. Namun ia memutuskan untuk tidak melihat kebelakang. Segera, rasa bersalah dalam dirinya tumbuh seiring dengan langkahnya dan ia menyerah bahkan sebelum mencapai setengah jalan ke Sakurasou. Dia berhenti didekat taman bermain, yang hanya memiliki sebuah kotak pasir dan beberapa ban, yang biasa dipakai untuk bermain saat dia masih kecil. Jejak kaki Mashiro juga berhenti.


"Kau ingin mengatakan sesuatu kepadaku kan?"


Jika dia mencoba untuk memikat dia taik, dia mungkin akan mengatakan padanya untuk tidak pindah dari sakurasou, karena sejak hari itu (dimana Sorata bilang untuk pindah dari Sakurasou), Mashiro tidak mengucapkan satu kaatapun tentang hal itu. Sorata Sorata tidak mengatakan apapun juga. Harapannya untuk bisa pindah dari Sakurasou terhenti tanpa perubahan apapun. Karena Mashiro tidak membalas, Sorata mengalihkan perhatiannya pada payung merah yang dibawa Mashiro.


"Payung itu, tidak cocok untukmu."

"Karena ini punya Misaki-senpai"

"Dimana punyamu?"

"Rusak."

"Beli saja payung yang baru."

"Aku dilarang untuk berbelanja."

"Aku tahu."


Siapa yang tahu apa yang kan terjadi kalau dia membelinya sendiri.


"Jika bersama Sorata..."

"Nanti disaat Aku ada waktu luang."

"... OK."

"Kau ingin mengatakan sesuatu kan?"

Dia membuat Sorata menunggu kata-katanya. Setelah berpikir sebentar, Mashiro berkata,

"Aku ingin mengatakan hal ini sejak lama."


Dia melihat kedalam mata Sorata setelah menggumamkan itu.


Sorata mempersiapkan hatinya untuk apa yang akan datang selanjutnya.


"Aku berpikir kalau 'bakau' itu adalah kata yang salah sampai sekarang."

"Maaf. Tolong beri Aku waktu sebentar. Aku ingin menemukan realita dan kompromi (maksud) dari kalimat yang kau ucapkan."


Sorata meringkuk kebawah dan bergaya seperti sedang berpikir. 30 detik berpikir dengan konsentrasi, dan 1 menit mengumpulkan pemikirannya.


"Apakah kau memberikan lelucon itu untukku?"

"..."


Mashiro hampir tidak mungkin melakukan hal itu. Jadi itu artinya dia mengatakannya secara alami, mengatakan pendapat jujurnya. Tidak mungkin bagi otaknya Sorata untuk mengerti hal itu


"Apakah itu hal yang tepat untuk dibicarakan sekarang?! Bukan kan? Itu tidak mungkin kan?!"

"Lalu, kapan Aku bisa mengatakannya?"

"Kalau bisa, simpan saja itu dalam hatimu dan jangan keluarkan!"


Dia sudah mulai terbiasa dengan hal ini, tapi pukulan hari ini cukup kuat. Disisi lain, dia agak bersyukur bahwa Mashiro tidak bertanya tentang apa yang dia tidak mau dengar. Disaat Sorata mulai berjalan lagi, Mashiro menghentikannya.


"Tunggu."

"Kenapa?"


Sorata hanya melihat kedepan dan menunggu kata-kata dari Mashiro.


"Ikutlah denganku hari Minggu nanti."

"..."

"Ada tempat yang Aku ingin pergi untuk melukis latar."

"Apakah itu untuk Penghargaan Pemulamu?"

"Ya."

"Oh... tapi maaf. Aku sibuk dihari Minggu."


Sebenarnya dia cukup bebas dihari itu. Dia hanya tidak memiliki waktu luang untuk peduli tentang orang lain. Dan juga, jika dia mengikuti Mashiro, mereka tidak akan proktiv. Dia tidak mau melompat ke ladang penuh duri karena keinginannya.


"Coba ajak Jin."


Dia mengatakannya dengan maksud 'lakukan apa yang kau ingin lakukan'. Dia ingin mengatakan sesuatu yang lebih baik, tapi untuk sekarang, semua berjalan kearah yang tak diinginkannya.


"Baiklah. Aku akan melakukannya."


Mashiro mulai berjalan kedepan. Jika bisa, Sorata tak ingin mengatakan apapun, tapi melihat Mashiro dia tak bisa hindari hal itu.


"Hey, Shiina."

"Kenapa?"

"Kemana kau mau pergi?"

"Aku mau kembali ke Sakurasou."

"Asramanya ada di arah sebaliknya!"

"... Aku tahu itu."

"Jangan berbohong! Kau berjalan dengan pasti tadi."

"Tidak."

"Kau melakukannya!"

"Aku tidak melakukannya."

"Kau benar-benar tak bisa tertolong lago. Aku hampir pingsan."

"Sorata, kau harus memeriksa matamu."

"Kau juga harus memeriksa kepalamu!"


Hari itu, Sorata dan Mashiro terus mengobrol seperti biasa tanpa jeda lama didalamnya sepanjang jalan menuju Sakurasou.

Bagian 3[edit]
Empat hari kemudian, pada hari Minggu, cuacanya sangat bagus. Sorata sedang menikmati tidurnya, setelah bangun di pagi hari, tiba-tiba terbangun setelah terkena pintu yang ditendang kerangkanya oleh kekuatan eksternal.

"Apa yang kau lakukan!" Dia merangkak naik dan mengusap dahinya yang telah dipukul dan membiarkan kekesalannya keluar ke alien berwajah lucu.

"~ Tidak baik! Tidak baik! Tidak baik aku katakan! ~"

Sorata tahu bahwa bagi Misaki untuk menyeret orang lain ke dalam situasi 'tidak baik' hanya berarti satu hal. Sejak pindah ke sakurasou, hanya ada 3 kali di mana kejadian serupa terjadi.

"Sekarang! Cepatlah dan ganti pakaianlah Kohai-kun! Pertempuran telah dimulai!"

Misaki sudah siap untuk pergi. Dia mengenakan atasan lengan panjang dengan rok. "Apakah Jin-senpai mendapatkan pacar baru?"

"Ini kencan! Sebuah kencan, aku memberitahumu! Misi menyelinap dimulai!"

"Maksudmu menguntit."

Sorata kembali menguap dan mulai memasukan pintu itu kembali ke engselnya. Tidak peduli berapa banyak ia memasukkannya, sekrup itu benar-benar tidak ada gunanya.

"Aku lebih baik menjadi profesional dan mencoba untuk memperbaikinya dengan benar."

Sementara ia sedang memeriksa kerusakan di pintu, Misaki berusaha melepas baju dan celana Sorata .

"Stop! Kau meraih boxers saya juga! Senpai, itu akan melemparkannya Kau tahu!"

"~ Aku tidak peduli! ~"

"Aku peduli!"

Entah bagaimana, ia membrontak dari dia(misaki) dan melarikan diri ke ruang tamu. Bahkan di tengah hari, Chihiro mengadakan pesta minum sendiri. Di atas meja, sudah ada setengah lusin kaleng bir kosong. Ini baru saja meningkat menjadi tujuh kaleng.

"~ Kohai harus khawatir juga kan? Benar? Tidak ada kata tidak! Bsiaplah dan mari kita pergi! Ayo! Ayo! Mari kita pergi. Bersama ~!"

"Kamiigusa, hanya orang berusia wajar sepetiku, bisa mengatakan 'Go go go'. Apa yang Kau katakan benar-benar terdengar seperti ecchi."

"Mendengar itu dari seseorang yang minum di tengah hari tidak benar-benar meyakinkan."

"Apakah ada hukum yang mengatakan minum di siang hari dilarang?"

Matanya sudah tidak fokus. Dia semestinya berada dalam suasana hati yang buruk karena dia tidak mendapatkan pertemuan akhir-akhir ini.

"Tidak, tidak ada."

Untuk menjauh dari brbicara dengan yang mabuk, Sorata pergi ke lemari es dan mengeluarkan susu.

"Jika Kohai tidak akan datang, aku akan pergi sendiri! Aku akan pergi!"

"Kamu melakukan itu. Itu tidak benar-benar menggangguku ketika Jin berkencan."

Ketika Jin berkencan dengan perawat bernama Noriko, Sorata pergi bersama dengan Misaki menguntit mereka, tapi hmm, itu cukup melelahkan. Itu tidak sulit untuk mengikuti mereka atau menghentikan Misaki dari melakukan sesuatu untuk mereka, tapi apa yang melelahkan itu menonton Misaki tertekan.

Setiap kali Jin tersenyum seorang gadis dan ketika gadis itu tersenyum pada Jin, senyum Misaki mulai menghilang. Ketika mereka meraih tangan mereka, menempatkan tangan mereka di pinggang masing-masing, suasana energik biasa Misaki menghilang tanpa jejak.

"Salah, salah aku memberitahumu kohai-kun! Jika Kau terus bertindak seperti ini, maka Kau akan merasa dibuang!"

"Aku tidak yakin jika Aku mengikutimu."

"Kencan hari ini adalah dengan Mashiro!"

Mendengar nama yang tak terduga, Sorata menghentikan apa yang ia lakukan.

"Ah, benar."

Dia minum sedikit susu untuk menenangkan dirinya.

Tenang. Tenang saja dulu.

Dia tidak benar-benar perlu untuk tenang jika Mashiro pergi hanya untuk menggambar latar belakang. Ya, itu hanya untuk beberapa referensi. Dia berkata bahwa dia ingin mendapatkan beberapa referensi yang baik, seharusnya itulah. Yah, apakah itu benar-benar tidak terlalu penting? Ketika Sorata menghela napas lega, Misaki memberikan beberapa informasi baru.

"Mereka mengatakan bahwa mereka akan pergi ke 'love hotel'! Jika Jin menculik Mashiro, aku tidak bertanggung jawab!"

Dia menyemburkan semua susu di mulutnya. Misaki yang berdiri di depannya diterpa oleh susu, tepat di wajah.

"~ Wow, sungguh erotis. Meludah keluar di wajahnya. ~"

Dia bisa mendengar kritik Chihiro dari suatu tempat yang jauh.

"Lo, 'love hotel' ?! Maksudmu sebuah hotel cinta ?!"

"Apa yang kau katakan hotel bercinta, saya tidak tahu sesuatu seperti itu!"

"Saya juga tidak!"


"Bukankah kalian bekerja terlalu banyak keringat? Apa yang terjadi jika mereka pergi ke sebuah hotel."
Download Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3 , Nonton Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3 , Download Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3 480p , 360p , MKV , Nonton & Download Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3 Lengkap , Download Anime Subtitle Indonesia , Nonton anime subtitle indonesia , Download & Nonton Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3 Lengkap , Download Anime Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3 480p , Download Anime Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3 720p , Download Anime Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3 360p , Nonton Anime Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3 , Streaming Anime Subtitle indonesia , Streaming anime Sakurasou No Pet Na Kanojo (Indonesia) : Jilid 1 Bab 3

Update Lainnya

No comments