OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5

Admin | August 18, 2017
#5: Musik Ringan adalah Kekacauan
Keesokan harinya, sepulang sekolah.

Saat makan siang, aku menceritakan semuanya dengan sedetil-detilnya apa yang terjadi kemarin. Kaoru memandangku dengan mata yang terbuka lebar.

“Oh, benar-benar perkembangan yang tak terduga.”

Kaoru benar.

Fakta bahwa aku dapat pacar adalah kejadian yang sangat abnormal.

Dan tidak pernah terpikir olehku bahwa aku, yang dikenal selalu langsung pulang kerumah sepulang sekolah, mengikuti aktifitas klub...

“Kau tahu siapa penasihatnya? Kalau tidak ada, aktifitas klub tidak mungkin dilakukan, kan?”

“Dia Itotani[1]-sensei, guru pelajaran klasik. Tahun lalu dia instruktur di klub upacara teh, tetapi setelah anak kelas 3 lulus, klub itu dibubarkan. Kami dengar dia tidak terlalu sibuk, dan kami menyepakati kalau klub kami dapat menggantikan klub upacara teh.”

“Lalu bagaimana kau menjelaskan aktifitas klub kepada guru?”

“Dengan tujuan menemukan kembali penampilan yang sebenarnya dari gadis Jepang, untuk mengubah para siswi SMU Hanenoyama menjadi siswi yang memiliki harga diri, suci, tulus, dan cantik, belajar etika dan mungkin sopan santun, dll.”

Meski aku mendengar Masuzu menjelaskan semua ini ke guru, aku masih saja terkejut.

Lupakan saja, Itu hanyalah permainan kata belaka.

“Aktifitas klub kami memiliki tujuan untuk membuat kami menjadi gadis populer dan menyenangkan semua orang, fuhuhuhu~tehe☆” Itu jelaslah bukan hal yang pantas untuk dikatakan.

Disamping itu, ada masalah lain yang lebih penting yang belum terselesaikan: Apakah buku tulisku akan bocor ke Chiwa atau tidak.

Aku kemudian bertanya kepada Masuzu mengapa dia harus membawa segala omong kosong ini--

‘Tidak ada alasan khusus. Hanya untuk membuat hal-hal lebih menarik.’

‘Diary ini penuh dengan hal-hal menarik... Aku bisa merasakan talent Eita yang luar biasa’

‘Namun jangan kuatir, aku tidak akan membuka isi dari Diary ini ke Chiwa, atau memberitahu Chiwa kalau ini sebenarnya Diary milikmu’

‘Aku berjanji, jika hal ini terjadi, aku akan melepasmu dari peran ‘pacar palsu’’

Baiklah, jika dia mengatakannya seperti itu, tidak ada salahnya untuk memercayainya sekarang.

Namun rasa tidak enak yang membayangiku terasa tak mungkin untuk disingkirkan.

“Berkata seperti itu, inisiatif Natsukawa-san benar-benar hebat, ya.”

“Ya, aku sendiri kaget.”

Faktanya, hanya dalam satu hari saja dia sudah menemukan penasihat, mendirikan sebuah klub, dan yang lebih jauh lagi menarik Chiwa kedalam klub itu. Kekuatan yang tidak pernah kukira dari seorang ojou-sama.

Omong-omong, Masuzu masih belum masuk kelas, dan aku tidak mendengar ia pergi ke kantin sekolah... Jadi, dimana dia menghabiskan makan siangnya?

“Oh, ya, bagaimana Chihuahua-chan[2]?”

“Sepertinya dia sedang terbakar semangat perjuangan...”

Meski kami terlihat seperti tidak pernah berbicara selama bertahun-tahun, Chiwa mampir semalam untuk makan malam.

Hidangannya adalah babi bakar jahe, dan dia secara terus-menerus tambah sampai 3 kali.

“Meskipun sangat mengesalkan untuk mendengarkan omelan dari cewek itu, setidaknya aku dapat mendengar sesuatu yang bagus.”

“Aku ingin mencuri rahasia itu... Dan menjadi lebih populer dari Natsukawa... Aku benar-benar akan menunjukkannya!”

Chiwa memuncratkan nasi saat berbicara penuh semangat, dia terlihat sangat bahagia.

Ini mungkin karena:

Sejak dia tidak bisa lagi berlatih Kendo, kupikir dia memiliki terlalu banyak energi untuk dihabiskan.

Terlebih lagi, dia juga sering mengatakan dia sedang ‘mencari hal lain untuk dilakukan’.

Hehe.

“Bukankah Eita terlihat sangat senang sekarang?”

“Jangan mengatakan hal bodoh. Dia dengan paksa memotong jam belajarku dan itu sangat menyebalkan.”
Tetapi, ekspresi wajahku menjawab sebaliknya.

Faktanya, Kaoru benar. Aku sedikit... senang.

Tetapi, itu bukan karena aku bergabung dalam sebuah klub.

Sebetulnya, melihat Chiwa berulang kali mencoba sekuat tenaga -- itu tidak buruk.

“Kalau kubilang, di-sandwich 2 orang cewek bisa jadi sangat merepotkan.” Kata Kaoru dengan senyum masam.

“Ya, hanya kau yang mengerti aku.”

“Tentu saja, karena kita sahabat.”

Perasaan empati seperti ini adalah sesuatu yang juga ingin kurasakan dengan ‘pacar’ dan ‘teman masa kecil’ku.’

Aku tidak sabar menunggu!



Sepulang sekolah--

Didepan pintu ruangan klub terpampang sebuah kertas gantung bertuliskan kaligrafi yang ditulis oleh Masuzu.

Klub Jien-Otsu kami siap untuk memulai aktifitasnya.

“Harusaki-chan, kau siap?”

Masuzu mengenakan pakaian seputih salju sebagai jubah, entah darimana ia mendapatkannya, dengan satu tangan memegang buku tulis, membuatnya terlihat seperti seorang guru. Seperti yang kukira, orang cantik bisa melakukan hal-hal seperti itu.

“Rekreasi-diri[3] gadis muda, dimulai!”

Chiwa menggerutu tidak puas, namun tetap berlutut diatas bantal duduk. Seperti pemain kendo sejati, punggungnya tegap lurus, dan posturnya sempurna.

Aku mengikuti mereka dan duduk bersila di atas kursi lipat, tidak jauh dari kedua cewek itu.

“Untuk memulai, marilah kita menyetujui sebuah tujuan.”

“Tujuan?”

“Pertama-tama, kita target orang yang ingin kau jadikan pacar. Singkatnya, ‘siapa yang akan kau jatuhkan[4]’?”

“Menjadi populer tanpa itu... Apa tidak mungkin?”

“Aku percaya menetapkan suatu tujuan akan membuat hasil lebih mudah didapat saat latihan.”

“...Bahkan jika kau tiba-tiba memintaku memilih seseorang...”

Katanya, kemudian Chiwa menatap singkat kearahku.

Apa?

Apa dia meminta nasihatku?

“Itu benar, sedikit lebih baik jika kita punya tujuan. Baik, kau punya seseorang yang kau permasalahkan?”

“Ah... Bagaimana mungkin aku punya... Uh?”

Chiwa menundukkan kepalanya.

Ehhhh...

Dia tidak menyukai satu cowok pun, namun ia tetap ingin menjadi populer?

Ini benar-benar melemahkan tujuan untuk memiliki tujuan.

“Jangan berpikir terlalu keras, tidak apa untuk memulai dari mereka yang sudah kau anggap teman.”

Ia kemudian mendongak dan berkata,

“Sakata dari Basket Putra? Dia senior. Aku mendengar cewek-cewek di kelas membicarakan betapa tampannya dia.

Sakata?

Apa tim Basket Putra sekolah ini memiliki senior dengan nama seperti itu?

“Apa maksudmu Sakagami-senpai? Tahun ketiga?”

“Ah, b-benar, itu dia.”

Jadi senior yang itu?

Jika itu benar-benar dia, bahkan aku tahu latar belakangnya. Dia akan mengikuti Kompetisi Olahraga Antar-SMA, dan dia adalah ace dari tim basket SMU Hanenoyama. Dia sangat tinggi, berpenampilan baik, dan benar-benar dapat dikatakan sebagai cowok senior ‘populer’.

“Tapi dia sebenarnya bunga yang tidak bisa dicapai, Bukankah itu masalahnya?”

“Yah, aku benar-benar... Tidak menyarankan dia.”, kata Masuzu samar-samar.

Aku sedikit terkejut.

Kupikir dia akan mengatakan, ‘tujuan yang ambisius’ itu sangat bagus.

“...tidak tunggu, sebenarnya ini sangat mudah.”

Mengesampingkan keraguannya tadi, ia terus maju. Ia menganggukkan kepalanya dan berkata: “Adik Sakagami ada di kelas kita. Akan menjadi lebih mudah jika kita menggunakan dia untuk mengenalkanmu.”

“Mungkin kau bisa membuatnya bercerita ke kakaknya kalau ada ‘cewek sangat lucu’ di kelasnya.”

Bahkan setelah segala urusan memilih target, ekspresi wajah Chiwa masih terlihat tidak senang.

Bagaimana antusiasmenya mendadak menghilang?

Baru kemarin, dia benar-benar bersemangat.

“Baik, karena kita telah membuat suatu tujuan-- kita akan memulai pelajaran pertama.”

Masuzu berdiri di depan papan tulis (aku juga tidak tahu dia dapat darimana), dan berkata:

“Pertama-tama kita akan membaca lantang isi ‘diary’ ini, jadi dengar dan perhatikan.”

Huh?

Aku hanya bisa kaget... Namun, mata Masuzu memandangku dan ia tersenyum seakan mengatakan ‘jangan khawatir’.

...baik, aku percaya padamu sekarang.


28 Mei - Cerah

Aku ingin mengenalkan partnerku-- gitar dan musik barat, yang bagaikan ritme jiwa.


Hari ini, aku membawa partnerku bersamaku.

Mereka adalah diriku. Bagaimanapun waktu berjalan, aku tak bisa melepaskan, meninggalkan mereka, atau menggantikan mereka dengan avatar palsu.

Itulah sang ‘GUITAR’[5]! Yang terpahat sebagai partner jiwaku.

Saat aku membawa gitar, aku benar-benar terlihat seperti seorang seniman.

Orang dijalan memandangku dengan pandangan berbeda.

Itu karena mereka melihat mata seniman-- yang hanya memandang jauh kedepan.

Terkena pandangan seperti ini, aku dan partnerku terasa terbakar, panas, panas.

Tapi ekspresiku tetap ‘KOOL’[6].

Karena-- tidak, tidak seperti itu.

Wajah KOOL x HAT[7] soul = ∞

Kalau tidak begitu kau tidak akan bisa membuat musik.


Ayo, hari ini kami membuka pendahuluan dari penampilan live!


Biarkan sekolah yang menyedihkan ini-- memanas!


“Ku--ooooooooooooouuuuu--”

Ini...

I-ini sangaaat...

Masuzu memang mengikuti perjanjian, seperti membuat beberapa perubahan, menghapus hal-hal tertentu, jadi tak ada yang tahu kalau aku yang menulis diary itu.

Dia melakukannya dengan sangat baik, aku ingin sekali memujinya...

T-tapi...

Tapi...

Aaaaaaaaaaaaaaggggghhhhhhhh...

“Hey, hey, E-kun! Kau tak apa-apa?”

Chiwa menggoyang pundakku.

“Ya, aku tidak apa-apa, Chiwa, ada apa? Haha, kau terlihat kaget.”

“Karena kau tiba-tiba menjedot-jedotkan kepalamu ke tembok! Lihat, kamu berdarah!”

Chiwa dengan cepat mengambil botol disinfektan merah dan kain kasa dari tasnya. Sepertinya dia telah terbiasa membawa peralatan P3K di dalam tasnya sejak mengikuti klub kendo. Dia sangat berpengalaman dan terampil merawat luka.

“Apa E-kun mau ke UKS?”

Masuzu ternyata juga perhatian.

--tunggu, bukannya seharusnya ini salah dia?

Sial...

Aku tidak pernah membayangkan membaca buku tulis di depan orang lain dapat menimbulkan kekuatan merusak sebesar ini.

Benar-benar melewati ekspektasiku...

Mungkin ini juga akan memengaruhi hidupku...

Aku harus cepat-cepat membuat Chiwa populer, dan menghentikan aktifitas klub, kalau tidak...

“Maaf, aku tidak apa-apa! Kita bisa melanjutkan.”

Masuzu mengangguk, kemudia berdiri lagi didepan papan tulis.

“Makna dari catatan diary ini adalah --’orang-orang band itu populer!’ Khususnya: gitar. Faktanya, sembilan puluh tujuh persen cowok SMA mulai belajar gitar karena ingin menjadi ‘populer’. Data investigasi ini sangat jelas; dengan kata lain: Gitar memiliki efek yang besar terhadap popularitas. Tentu saja, hal ini juga sama pada cewek SMA.”

Meski Masuzu dengan tenang menyisipkan rumor-rumor palsu, aku harus setuju kalau klaim yang dibuatnya mempunyai banyak kebenaran meskipun ada hal-hal yang diputar-balikkan.

Orang-orang band itu sangat populer. Tapi apakah ini karena ‘Band membuat orang terkenal’ atau hanya karena ‘Orang terkenal bergabung dalam band?’ Yang mana yang benar, aku tidak dapat memastikan.

“Tapi bagaimana jika aku tidak bisa main gitar?”

“Terus apa yang bisa kau mainkan?”

Chiwa memiringkan kepalanya dan menjawab:

“Ehhh... Shinai?”

“Shinai bukan alat musik.”

“Eh? Tapi itu membuat suara kalau kamu terkena.”

“Suara seperti apa itu?”

“Men ♪ Men ♪[8]”

“Bagaimana kau bisa mengatakannya dengan santai?!”

Masuzu mengetukkan batonnya ke papan tulis dan berkata:

“Tidak apa-apa jika kau tidak bisa main.”

“Eh?”

“Kamu hanya harus terlihat seperti kau tahu cara memainkannya. Kau tak akan punya kesempatan memainkannya di sekolah juga.”

“Itu benar...”

“Untuk sementara ini, ‘air guitar’[9] ini sudah cukup fashionable kan? Itu bukti terbaik untuk menunjukkan kamu ingin menjadi populer, jadi kau tidak perlu mampu membuat musik.”

Masuzu menarik keluar wadah gitar dari belakang papan tulis.

Wadah gitar itu sangat besar, keras, dan berwarna hitam pekat.

“Ini, untukmu.”

Chiwa menerimanya, membukanya dan memutar bola matanya.

“Tidak ada gitar disini?”

Masuzu mengangkat bahunya, seperti mengatakan ‘apa yang anak ini katakan?’ dengan bahasa tubuhnya. Dia bertanya balik: “Jika kita masukkan, bukankah nanti jadi terlalu berat?”

“...”

“Tolong bawa wadah ini denganmu. Seperti yang seorang gitaris akan katakan, gitar itu sama seperti anggota tubuh sendiri, benar, Eita-kun?”

“B-benar.”

Dalam buku tulis, memang tertulis seperti itu.

Meski kenyataannya, aku tidak tahu apa-apa tentang gitar.

Seluruh catatan diaryku berdasar pada pemikiran, ‘jika aku bisa bermain gitar’. Kau bisa katakan kalau itu adalah sejenis persiapan psikologis atau pandangan tentang masa depan... Atau yah... Mungkin cerita tentang mimpi yang ideal.

Ugh.

Tidak...

“Waaahhhhhhhhh! Kalau kamu lompat dari jendela itu, kau akan mati!”

“Ada apa denganmu?! E-kun, tenanglah!”

Pada akhirnya aku membatalkan niat untuk bunuh diri setelah ditenangkan Chiwa.

Masuzu berdeham dan berkata:

“Jika ada orang yang ingin menyentuh wadah ini, tegur saja mereka dengan keras, ‘Jangan nodai jiwaku!’ atau ‘Jauhkan tanganmu yang kotor itu!’, sifat cepat marah adalah ciri khas dari seorang gitaris.”

Itu benar-benar prasangka yang stereotipikal.

“Tapi isinya kosong kan?”

“Kalau kau masukkan gitar, bukankah nanti jadi terlalu berat?”

“...”

Chiwa memakai ekspresi yang tidak dapat dijelaskan pada wajahnya, saat terus memandang wadah itu.

“Dan juga, kau harus sepenuhnya meremehkan musik tradisional Jepang.”

“K-kenapa begitu?”

“Ini adalah kecenderungan para gitaris. Pendengar musik tradisional itu sampah, serangga kotor! Kau perlu mempersiapkan mentalmu untuk ini, terutama jika kau mendengar Johnny atau AK[10]. Disaat kau mendengar musik seperti itu, itu akan membuat telingamu membusuk, camkan itu.”

Hah?

Apa Masuzu memiliki kebencian yang tak bisa terobati pada musik tradisional Jepang?

“Apakah ini benar-benar akan membuatku populer?”

Kata Chiwa, mengerutkan alisnya.

Sepertinya dia akhirnya merasa curiga.

“Tentu saja, tulisan ‘dia’ lebih sempurna dari kitab suci.”

Bahkan saat menghadapi pertanyaan penuh keraguan, Masuzu tak pernah goyah.

“Kebencian terhadap musik tradisional dan cinta kepada musik barat adalah syarat harus untuk seorang gitaris.”

“Aku tidak pernah mendengar musik barat, dan aku tidak tahu penyanyi siapapun.”

“Mereka bukan penyanyi. Mereka dipanggil ‘artis’[11].”

Masuzu dengan hati-hati memperbaiki detilnya.

“Jangan khawatir, jika mereka menanyakan siapa artis yang kau suka, ambillah salah satu nama dari stand-stand di JoJo’s Bizzare Adventures Part IV, seperti yang terekam dalam buku tulis itu.”

“...”

Tolong maafkan aku, Araki Hirohiko-sensei[12].

“Oh... Omong-omong, apa itu JoJo?”

“Eh?!”

Masuzu memandang Chiwa terkaget-kaget.

“Kau bilang kau tidak tahu tentang JoJo’s Bizzare Adventure?”

“Tidak. Apa ada hubungannya dengan tempat Yakiniku[13]?”

“...”

Masuzu menghela nafas dalam.

Apa ini berarti, meski penampilannya seperti itu, dia juga menyukai shonen manga seperti Chiwa menyukai shonen manga?

“Aku akhirnya mengetahui alasan mengapa kamu tidak populer, Harusaki Chiwa. Seseorang yanng tidak tahu JoJo itu selevel dengan Peking Man[14].”

“J-jangan berkata bodoh! Aku ini orang Jepang seutuhnya!”

Tidak, kau seharusnya melempar tsukkomi pada bagian ‘orang primitif’[15].

“Jika kau ingin menyatakan bahwa kau adalah orang Jepang yang hidup di jaman modern, tolong baca JoJo sampai selesai dulu. Populer atau tidak, disinilah kita memulai.”

“JoJo ternyata menjadi poin penting...”

Chiwa dengan sedih menundukkan kepalanya.

Tapi hanya untuk beberapa detik.

“Aku tahu, aku akan mampir ke toko buku dan membelinya saat pulang!”

Rambutnya dengan acak mengayun ke atas saat ia mengangkat kepalanya, bola matanya sekali lagi berapi-api penuh semangat.

“Sebenarnya, aku ingin kau mulai membacanya dari bagian pertama, tapi karena kita lebih membutuhkan bagian keempat, belilah volume 29 sampai 47. Satu volume harganya 410 yen, jadi semuanya harganya 7790 yen.”

“Mahal sekali! Aku cuma punya uang jajan 5000 yen per bulan!”

“Tolong mengertilah maksudnya. Untuk menjadi populer, seseorang semestinya memiliki uang.”

“Benar-benar, hal yang bernama cinta... Bergantung pada banyaknya uang...”

Mata Chiwa memandang ke kejauhan.

Astaga...

“Jangan khawatir, Chiwa, kalau itu JoJo aku punya semua volumenya. Akan kupinjamkan padamu.”

“T-terima kasih, E-kun~!”

Chiwa benar-benar terlihat seperti anak anjing yang diberi snack, dan dengan senangnya bergerak mendekat ke arahku.

“Jika kamu benar-benar menyukai yang kau baca, pastikan kau membeli sendiri punyamu, ok?”

Masuzu memaksanya melakukannya. Itu menjadi bukti bahwa dia adalah fans hardcore dari JoJo.

Setelah itu, kami membicarakan detil dari operasi-populer yang akan dilakukan keesokan harinya.




Keesokan harinya sepulang sekolah--

“Hey, hey, E-kun.”

“Hey-- bukankah itu Chiwa? Kenapa hari ini kau membawa gitar?”

“Ini, tentu saja, jiwaku! Gitar ini adalah jiwaku.”

Aku dan Chiwa melafalkan dialog kami kata demi kata.

Sedangkan Masuzu, yang duduk disebelahku, duduk cuek menulis agenda kelas. Jika terjadi suatu masalah, dia akan ikut bergabung dan memperbaiki situasi.

Adik Sakagami duduk di tiga baris depan sebelah kanan tempat dudukku.

Dia sedang mengobrol dengan teman ceweknya, menandakan dia belum akan pulang.

Ini kesempatan yang baik.

“Aneh. Chihuahua-chan bisa main gitar?”

Yang berbicara adalah pemimpin dari sekelompok siswi - Akano Mei[16].

Dia dibilang mempunyai lingkar pertemanan yang besar. Baik itu laki-laki atau perempuan, di kelas manapun, ia masih memiliki teman. Ia seperti perwujudan nyata dari siswi populer[17].

Dia dan Chiwa seharusnya hanya berbicara sesekali saja, jadi fakta kalau ia memanggil nama panggilannya benar-benar perubahan yang besar.

“Halo, Mei-chan! Iya, aku bisa main gitar, ahahaha.”

“Sudah main berapa lama?”

“B..berapa lama, em... Aku sudah memegang pick gitarku sejak aku ‘ngedot’!”

“Kamu anggota band?”

“A-aku... Main sendiri! Kadang-kadang, aku main solo didepan stasiun!”

“Keren, kamu seperti musisi jalanan?[18]”

“I-iya! Aha! Ahahaha!”

Hey...

Jangan menyombong seperti itu, ok?

Tapi, bagaimanapun, percakapan ini sepertinya berguna. Aku melihat adik Sakagami beberapa kali memandangi Chiwa.

Kita melihat Masuzu di samping dan menyadari di bawah mejanya, dia mengacungkan jari telunjuknya.

Itu adalah tanda untuk terus melanjutkan. “Musik macam apa yang biasanya kau dengar?”

Salah satu teman Akano -- Aoba Satsuki[19] menambah topik pembicaraan.

Dua siswi ini adalah pusat pertemanan dari kelas kami, yang biasa dikenal dengan julukan ‘kombo Merah-Hijau’[20].

“U-huh, seperti red hot chili Pepper. Ada juga bad company dan semacamnya, kan?”

Meski tersandung kecil, Chiwa masih menjawab dengan nama band yang tepat.

Terbukti, semalam dia telah membaca semua Part IV.

“’Red Hot’... Apa itu?”

“Kau tidak tahu? Mereka band Amerika terkenal.”

Akano mengedipkan mata terpesona ke Aoba, yang ingin memberikan penjelasan.

Sepertinya Aoba adalah seseorang bertipe ‘aku tahu itu’.

“Harusaki-san, kau suka ‘Rechili’?”

“Hot pot beragam ikan-kembung? Aku makan saat pergi bersama keluarga di Kyushu, tapi aku lebih suka shabu-shabu.”

Oy, Chiwa bodoh!

Harusnya kau memikirkan konteksnya! ‘Rechili’ adalah singakatan dari ‘Red Hot Chili Peppers!’

“Ahhh, maaf, Harusaki-san tidak suka singkatan ini, bukan?”

“Huh?”

“Semua fans lama menyingkatnya ‘RHCP’ atau ‘Chili Peppers’, begitu kata ayahku.”

Chiwa pada akhirnya terlihat mengerti.

“Ahhh! Um, aku fans lama mereka! Aku seorang ‘Old Type’!”

Sepertinya Chiwa takkan bisa menggunakan Funnels[21]

“Baik, karena kamu itu fans ‘Chilipeppers’, gitarmu seharusnya juga ‘Strat’, kan?”

“Huh?”

“Frusciante ganteng banget! Sayang dia keluar dari band.”

“F-Fruscian--? Lalu stand siapa itu?”

“Stand?”

Pembicaraan ini tidak berjalan.

Meski aku sangat ingin membantunya, aku hampir tidak memiliki pengetahuan apapun tentang musik barat. Bahkan aku baru tahu kalau ‘Red Hot Chilli PepperS’ adalah nama yang benar beberapa saat yang lalu.

Mengahadapi situasi seperti ini, aku memandang Masuzu agak lama.

“Ahhh... Awan semerah darah, para dewa dikala senjaRagnarok sudah dekat.”

Masuzu bersandar ke meja dengan tangan menyangga kedua pipinya, dia seakan menjadi pujangga malas yang memandang keluar jendela.

Bagaikan segala yang terjadi tidak ada hubungannya dengannya.

Aku tidak pernah melihat orang seburuk ini!

“Biar kulihat gitarmu.”

Akano mengatakannya dengan nada tegas.

“T-tidak! Ini jiwaku! Aku tidak bisa membiarkan orang lain melihatnya begitu saja!”

Chiwa melindungi tempat gitar (kosong) miliknya dibelakangnya.

“Huh? Kenapa tidak, biarkan aku melihat ‘Strat’ kesayanganmu.”

“Kalau begitu mainlah sedikit untuk kami! Sedikit saja sudah bagus!”

Inilah batasnya.

“Ayo Chiwa! Sudah waktunya untukmu pergi ke konser live mu kan?”

Aku ingin membantunya, tapi--

“Ya, aku ingin melihatnya juga!”

Pada saat seperti ini, adik Sakagami ikut nimbrung.

“Kakakku punya hobi mengoleksi gitar tua. Kamarnya penuh dengan gitar. Mungkin Harusaki bisa dekat dengan dia.”

Persis seperti kakaknya, ia berwajah tampan. Ia mendekati Chiwa.

Akhirnya Chiwa terpojok, ia mengggenggam erat wadah gitarnya dan seluruh badannya gemetaran.

Aku jadi lebih mengetahui betapa pendek dirinya.

Membawa wadah gitar besar membuat badannya terlihat pendek; lagipula, nama panggil Chihuahua miliknya memang beralasan.

Namun, fisiknya jelas sangat kuat.

Siswi SMA biasa umumnya tidak bisa dibandingkan dengannya. Setelah pengalaman Kendo selama delapan tahun, hasilnya tidak hanya sedalam kulit saja.

Dengan ini, Chiwa tergagap:

“O-O-OOOOO-O-k-Okay? A-A-AAAAku akan perlihatkan...”

Ia menggengam leher gitarnya, dan mengangkatnya bagaikan sebuah shinai.

“JREENG!!”

Chiwa meraung dari dalam perutnya.

“JRENGJRENGJRENGRENGRENGRENGRENGJRENG!”

Dia seperti gitaris destruktif yang gila saat konser live, dan setelah itu, ia memulai mengayun-ayunkan wadah gitarnya!

Adik Sakagami terbengong-bengong, dan memandanginya kosong.

Semua orang dikelas menahan nafasnya, atau terpaku melihat rambut kusut Chiwa dan gerakan destruktifnya. Untungnya, tangannya sangat pendek, jadi ia tidak menimbulkan kerusakan di sekitarnya.

“Huuf-- JRUENG--!”

Akhirnya, ia memberi teriakan akhir nan apik, mengenang masa jayanya di klub kendo.

Ruang kelas sangat sunyi.

“Ro-rock and roll! Thank you! I love you!”

Begitulah akhir dari konser livenya.

“...habislah aku!”

Chiwa menggenggam kembali wadah gitarmya, dan kabur dari kelas bagai kelinci.

Tidak ada yang berusaha mengejarnya.

Kita semua terpaku.

Dan tidak dapat berkata apa-apa.

Dikelas yang membeku ini, hanya ada satu orang yang bersuara.

Natsukawa Masuzu.

Ia menenggelamkan wajahnya diatas meja, badannya gemetaran.

Aku mengira ia sedang merasa hancur dengan kegagalan yang tragis ini, karena ia adalah sponsor dari proyek ini. Itulah yang sedang aku ki--

“Pufufufufu, fufufufufu, ufufufufu, fufufufufufufu--[22]”

Dia tertawa.

Menangis.

Bahunya bergetar.

Seluruh badannya tertawa.

...


Benar-benar, aku tidak pernah melihat orang yang seburuk ini!
Download OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5 , Nonton OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5 , Download OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5 480p , 360p , MKV , Nonton & Download OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5 Lengkap , Download Anime Subtitle Indonesia , Nonton anime subtitle indonesia , Download & Nonton OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5 Lengkap , Download Anime OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5 480p , Download Anime OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5 720p , Download Anime OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5 360p , Nonton Anime OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5 , Streaming Anime Subtitle indonesia , Streaming anime OreShura (Indonesia):Jilid 1 Bagian 5

Update Lainnya

No comments