Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1]

Admin | September 30, 2017
#Pria 31 Agustus #Kreator yang memiliki kesadaran diri RT
"Fwaaaah~"

"......ngantuk ya"

Setengah golden week berakhir, Hari ini Selasa, hari kerja singkat yang terjepit di libur berurutan.

Suara parau yang familiar menggangguku yang mendambakan tidur berharga yang terpaksa beraktivitas di tengah waktu istirahat.

"Begitulah, begadang"

"Ya ampun, di tengah liburan kau masih mabuk kerja paruh waktu ? Kali ini judul apa yang dipersembahkan ?"

"Sayangnya bukan kerja paruh waktu"

Ngomong-ngomong persembahan ini, intinya tidak salah lagi adalah keadaan di mana kerja paruh waktu diperlukan karena ada 5 judul anime kali ini yang diputuskan untuk membeli seri BDnya......

"Kalau begitu, pas libur ke mau Akiba kah ? Kalau kau tidak kerja paruh waktu palingan cuma makan anime dan game dari pagi hingga malam kan ?"

Lalu, pada kata-kata yang kelewat tidak dipikirkan itu, aku nyaris langsung marah-marah.

Hari libur, dari pagi aku mengurung diri di kamar, dalam keadaan menyembunyikan semua jam dan ponsel, entah betapa pentingnya waktu yang berlalu ketika cuma memainkan sambil ketawa-ketawa game yang menumpuk dan anime yang direkam, saat-saat yang sangat bahagia......

"Tidak bisa, walau tidak kerja paruh waktu tapi aku sibuk"

Tapi, karena sekarang bukan saatnya menceritakan pokok permasalahan itu aku mengalirkannya.

"Aha, baru-baru ini berpacaran ya, maaf. Mau dijadikan istri ya ?"

"Kenapa mencurigainya sebagai istri bukannya pacar?"

Lalu, selagi aku menatap tajam padanya, kupandang sekilas tempat duduk di ujung koridor.

"Tidak, sebenarnya kalau pacar pun aku sama sekali tidak ada masalah. Kalau ada anak seperti itu, kenalkan ya. Karena kalau Tomoya, kurasa pasangannya entah cosplayer, calon pengisi suara, atau fujoshi ? Panggil juga temannya dan adakan offline gathering ya ?"

"Walau berbagai macam yang ingin kubahas, tapi jika hanya satu yang dikatakan dengan berani itu pesta pergaulan kan"

Biarpun begitu, seperti biasa, tidak ada gosip sedikit pun antara aku dan Katou.

Meski bersama tiap hari termasuk akhir pekan, dua minggu sampai minggu kemarin, seharusnya di sekolah pun berkali-kali disaksikan hanya berdua saja.

Hobiku mungkin tersebar ke seisi sekolah, tapi ini sepertinya sama sekali tidak seperti itu.

Artinya, mungkin orang itu pun, dalam suatu arti, ada sesuatu yang aman.

Atau malah tidak ada sesuatu yang berbahaya......

"Tuh, lonceng pertama, nanti ya Tomoya"

"Ya, sampai nanti"

Ngomong-ngomong teman sekelas yang berbicara tadi adalah Kenji Miyoshi, bukan Yoshihiko sebelum ini.

Di galge pun, kalau tidak menyiapkan gambar yang berdiri satu-satu, teman laki-laki tanpa arti seperti ini akan bertambah dengan mudahnya.


"Latarnya adalah kota kastel di dunia fantasi multidimensi......"

Kelas sepulang sekolah terasa suram dengan rasa tidak enak karena langit ditutupi awan tebal.

"Lalu, heroinenya adalah idol pemula yang debutnya menunggu di depan mata......"

Dari luar jendela, terdengar kerasnya suara tetesan hujan tak berarti yang menghantam lapangan.

"Ngomong-ngomong, protagonisnya kamerawan dan manajer lepas......"

Di ruangan yang penuh dengan kegaduhan bahkan suara kecil pun tak terdengar itu, suaraku sebagian besar tenggelam.

"Ah, kebetulan ketika heroinenya hilang ingatan dan berkeliaran di kota, ditemukan oleh protagonis dan mereka hidup bersama, itulah ceritanya......"

Cara berceritaku yang penuh kesan seadanya, menghilang bersamaan dengan keluarnya dari mulutku.

"Rasanya seperti cerita dimulai dengan suatu hari, lewat perintah dari pimpinan kantor heroine itu dipopulerkan sebagai idol, dengan rasa itu......"

"Hey......"

"Parameter heroinenya vokal, tarian, penampilan, keanggunan, semangat, daya tarik pada lawan jenis, moralitas, bermacam-macam......"

"Anu......"

"Lalu, dengan cara mengembangkan parameternya, pekerjaannya di ending juga berubah bermacam-macam......"

"Sebentar......"

"Sudah jelas ada S-Rank idol, atau jadi putri yang jatuh cinta setelah pertama bertemu sang raja, tapi kalau salah cara melatihnya juga bisa jadi pelacur atau penipu, ah, tentu saja ending menikah dengan protagonisnya......"

"Sudah cukup ! Diaaaaam ~!!!"

"Wow, jangan mengeluarkan suara kencang seperti itu. Akan mengganggu sekitar"

"Pertama-tama karena di luar terlalu ribut suaranya sama sekali tidak terdengar !"

".......yeah, begitulah"

Saat itu, kilat yang cantik dan petir dengan kerasnya bergemuruh di kelas.

Hal itu ketepatan waktunya luar biasa bagus seperti benar-benar menyamakan dengan teriakan kemarahan Eriri......

"Pokoknya sudah pulang saja. Kali ini pun waktu yang sia-sia tanpa cela hingga luar biasa"

"Oleh karena itu tunggu. Bagaimana pun juga rencana yang belum selesai kujelaskan masih menggunung......"

"Kalau dengan tingkatan sekarang sudah lama terjadi longsor"

"Eh~"

Padahal seharusnya setelah ini masih ada rencana tie-up dengan daerah setempat, eksploitasi rare card, gacha, kombinasi sistem premium......bukan, mimpi yang berlanjut.

"Saat kukira akankah jadi sedikit normal dari presentasi sebelumnya......kenapa proposal ini hanya bajakan campur aduk baru dan lama macam-macam game simulasi latihan ?"

"Walau sebelumnya pun hampir semuanya bajakan......tapi genre material aslinya berbeda"

"Sudah tidak jadi penjelasan apa pun, itu cuma pengakuan kejahatan lainnya kan !"

Nah, berapa banyak latar game yang bercampur aduk kali ini?

"Biarpun begitu......kali ini masih sangat cenderung ke sistem"

Kata Kak Utaha tadi yang sepertinya sendirinya pun terkejut.

"Cih......"

Eriri terdiam cemberut tidak jelas sama seperti sebelumnya.

"Tidak, karena katanya kakak memiliki seri baru, aku ingin mengurangi beban skenarionya"

"Yah, tapi isinya yang tidak pantas dibicarakan ini sama sekali tidak ada bedanya dengan yang sebelumnya sih"

"......walau aku memikirkannya, nampaknya perhatian itu tidak perlu"

Akhir pekan sebelumnya, yang memberikan kesempatan sekali lagi padaku dengan pola seperti jatuh hati dengan senyuman baik setelah penghinaan, tidak salah lagi memang orang ini.

"Walau kali sebelumnya terasa seperti ditinggalkan sekitar jam sepuluh malam, kali ini rasanya perjuangan keras sampai jam tujuh pagi. Bagian yang terlalu kacau-balau akibat berpikir dengan otak yang tidak bekerja di tengah malam"

"Eh~"

Tapi hal itu sepertinya untuk memenuhi nafsu S menyiramkan tawa keras padaku yang dibuat merayap di tanah sekali lagi.

"Lalu, bagaimana Rinri ? Tapi kalau kau katakan ini usaha yang berusaha sampai batas kemampuanmu, pencapaian sekuat tenaga yang ampasnya pun tidak keluar lagi, akan kucoba untuk membaca seluruhnya sedikit lebih serius lagi lho ?"

"......karena aku membawanya lagi tolong lihat lanjutannya"

Argumen kuat orang berkemampuan tinggi dengan kepribadian buruk itu, mengapa membuat orang merasa sesengsara ini......

Sambil memikirkan itu, untuk mengalihkanku dari kekecewaan, dengan tangan sendiri kucoba menggumpalkan kertas proposal yang kumal......memang jika dipikir lagi bagian belakang kertasnya dapat digunakan akhirnya kumasukkan dalam tas.

Ah, akibat berhenti di tempat yang aneh aku jadi memperbanyak stress yang tidak perlu !

"Tunggu sebentar, mungkinkah masih berniat untuk membuat kami menemani ?"

Kali ini ditutupi oleh suara yang sepertinya bosan dari arah yang berbeda.

"Justru karena memohon, aku membawa draf final kali ini"

Tapi yah, walau ia pun orang berkemampuan tinggi dengan kepribadian buruk, karena tidak terlalu mempunyai kepintaran yang logis aku merasa tenang dalam arti seperti itu.

Ah, bukan berarti aku mengatakan karena lemot jadi mudah ditangani.

"Ya, kira-kira sekali lagi ayo kita temani ya Sawamura. Bagaimana pun juga setelah libur berurutan berakhir toh kau tidak mengikuti event untuk sementara kan ?"

"Hanya saja aku, tidak suka dipaksa menemani yang tidak berguna semacam ini dan membuang waktu hidup yang berharga"

"Dengan kata lain, kau takut hidupmu dibuat berantakan oleh Rinri ?"

"Aku tidak takut ! Tidak, aku tidak ingin menghabiskan kehidupan busuk sebodoh dan segila ini !"

"Meski bukan aku yang mengejek tapi kenapa mengarahkan serangannya padaku......"

Benar-benar, orang ini karena lemot jadi susah ditangani.

"......benar kali ini yang terakhir ? Tidak ada yang berikutnya ya ?"

"Serahkan padaku. Pernahkah aku berbohong sampai saat ini ?"

"Tak terhitung dengan daftar teratasnya DVD minggu kemarin"

"Menyejajarkan lelucon dan bohong itu kasar, Eririn"

"Jadi begitu, artinya yang sekarang bukan bohong tapi lelucon. Yang mana pun juga memang pantas mati itu aku mengerti"

Hrmm, walau menurutku itu panggilan yang paling manis di antara 17 nama panggilan yang kuberikan sewaktu SD. Paling tidak, lebih daripada Eringi atau Eriringowww.

"Karena itu, kapan batas waktu kesempatan terakhirnya, Rinri ?"

"......aku akan selesai menulisnya selama libur berurutan, akan kubawa saat hari pertama setelah habis libur berurutan"

"Maa, jadi saat itu ya. Kalau sesenggang itu mau bagaimana lagi"

Biarpun begitu, pembuatan batas waktu ini sebenarnya lumayan bermurah hati.

Bagaimana pun juga, masyarakat lagi golden week. Dari sekarang hingga akhir libur berurutan ada satu minggu penuh.

Waktu yang cukup untuk membuat sebuah proposal doujin game, bukan bisnis.

"Kalau begitu, berikutnya pada akhir libur berurutan......"

"Ah, lalu Rinri"

Aku yang mau meninggalkan ruang audiovisual bersama dengan tekad, sekali lagi dihentikan oleh kak Utaha.

"Ada apa ?"

"Hari ini, gadis itu ?"

"......ts"

Ketika ditanya itu, aku sedikit lega, tapi segera kehilangan kata-kata.

"Ah, ngomong-ngomong hari ini tidak ada ya......siapa namanya"

"Bukannya kalian sudah berteman......?"

Lega di sini karena dengan susah payah akhirnya mengakui keberadaannya.

"Yah tentu, aku mengerti kalau Sawamura tidak ingin menerima keberadaan anak itu......"

"Hah ? Aku tidak mengerti maksudnya itu ! Pokoknya aku tidak suka berbicara denganmu karena selalu saja memutuskan seaneh itu !"

"Hei kalian, benar-benar......tidak, ah sudahlah"

Titik temu kedua orang ini harusnya cuma aku......tapi aku pun tidak bisa tidak berhenti berpikir.

"Ah ya, ya, aku ingat, Katou, Megumi Katou~ , apa tidak datang?"

"Katanya libur berurutan ini ia dan keluarganya bepergian......ke Hokkaido"

Karena ceritanya sudah tidak akan berlanjut hanya dengan semua balasan seperti 'Emangnya kamu anak kecil ?' kuputuskan mengabaikan sikap Eriri.

"Eh~ apa ? Sudah putus kah Rinri ?"

"Tidak, sebenarnya bukan i......eh, walau putus, sama sekali tidak jadian"

"Yah, walau Tomoya itu dari depan seperti gampang jatuh cinta, adalah sampah terendah yang gampang sadar ya"

"Tunggu sebentar di mana contoh semacam itu !?"

"Karena setahun lalu, dengan seorang pengarang light novel......"

"Sungguh, kau itu tipe yang lumayan pendendam ya Sawamura"

"Tidak, kakak juga jangan menggodanya seperti......"

Yah, daripada itu......

Hari ini, di tempat ini, tidak ada Zashiki Warashi seperti biasanya.

Esok pun, lusa pun......sampai sebelum akhir batas waktu, sepertinya tidak akan menemuinya lagi.


※ ※ ※

"Eh ? Apa ? Maaf, tidak terlalu kedengaran"

"Kau di Sapporo kah ? Sepertinya lumayan ramai ya"

Lalu Rabu malam.

Akhirnya memasuki bagian kedua libur berurutan golden week dari esok, yaitu bagi kami, hari yang boleh untuk paling meriah di bulan Mei.

"Makanya kataku tidak terlalu kedengaran. Lalu kapan batas waktunya ?"

"Makanya awal minggu depan. Seluruh libur berurutan"

"Eh, itu......"

"Ah, sebenarnya tidak apa-apa, daripada itu nikmati saja"

Lalu, obrolan antara aku yang seperti tidak peduli dengan libur berurutan, dengan Katou yang sudah memasuki libur berurutan, yang agak sedikit tidak pas.

"Yang itu maaf ya, walau waktunya lumayan penting, aku libur dari sekolah"

Suara Katou di gagang telepon yang terselip dalam keramaian lokal, sedikit sulit ditangkap.

Atau, bagiku, rasanya seperti tidak cukup usaha untuk mendengarnya dari dirinya sendiri.

"Itu perjalanan terakhir seluruh keluarga lengkap kan ? Itu lebih penting bagimu"

Dari sehari sebelum kemarin, Katou libur dari sekolah, pergi untuk perjalanan satu minggu ke Hokkaido.

Saudara perempuannya yang menikah musim panas tahun ini mengusulkan, hanya dari uang calon suami saudara perempuannya, hanya keluarga Katou, perjalanan terakhir keluarga.

"Di samping itu, keadaanmu sudah diputuskan sejak tahun lalu kan ?"

"Um, yah, begitulah"

......kisah semengharukan itu, kemarin, aku mendengarnya bukan dari Katou sendiri melainkan teman sekelas.

"Keadaanku kuputuskan sendiri kemarin, walau Katou memedulikannya ya apa boleh buat"

Hanya saja, masing-masing hanya bergerak dengan keadaannya sendiri.

Teman yang hanya dikenal satu bulan sebelumnya, apalagi lumayan punya rasa wajib menemani dengan keegoisan yang tidak masuk akal itu, benar-benar, sama sekali, sedikit pun tidak mungkin ada.

"Errr, benar tidak apa-apa ? Bisa tepat waktu sendirian ?"

"......makanya kenapa mengkhawatirkan hal semacam itu ?"

"Tidak, soalnya, Aki......"

Meski begitu, sampai jijik dengan suaraku sendiri itu menyedihkan.

Sampai membuat Katou mengeluarkan suara khawatir itu, menyedihkan.

"Pertama-tama, biar ada pun tidak ada yang bisa kau lakukan"

"Ahaha, yah, tapi sepertinya memang begitu ya ~"

"............"

Kesunyian dalam sekejap pun, menyedihkan.

Meski aku juga yang mengarahkan Katou jadi terpaksa mengatakan itu.

Tapi, Katou yang menjawab seperti itu, keringanan seperti sampai sekarang itu, agak......

"Aki ?"

"Ng ? Apa ?"

"Mungkinkah......"

"Maksudku segera kuakhiri ya. Karena untuk sementara aku ada batas waktu"

"Ah, ya......tapi ketika kata seperti itu keluar, akhirnya mulai bergerak juga, jadi kepikiran~"

"Tidak, dalam level saat kritis entah dibuat mulai bergerak atau tidak itu tidak ada pilihan lain"

"Ahaha, begitu juga ya......aku percaya, Aki"

Percaya......ya.


'Sebelum ini juga sudah kukatakan Rinri......kau, sebelum memotivasi kami, ada yang dilakukan bukan ?'

'Yang dilakukan, itu......"

'Gadis itu, kalau tidak menjadikan Katou serius tidak ada artinya kan ?'


Tidak boleh membuatnya percaya......bergantung, kalau tidak salah katanya.


'Yang paling tidak cukup di gadis itu, bukan karater, tapi motivasi'

'Yah, itu pasti'

'......tapi tentunya sebagai karakter pun aku mengakui ia sulit'

'Mengakuinya adalah pengesahan dari pengarang'

'Tapi soal itu, bisa diimbangi dengan motivasi sampai taraf tertentu kan ?'

'............'

'Untuk membuat bersinar heroine yang tidak mau bersinar, biar aku jenius pun tidak bisa mengubahnya kan ?'


Tidak adanya rasa keberadaan di dirinya itu, karena tidak ingin menunjukkan keberadaannya.

Ketiadaan motivasi itu, ditutupi dengan kebaikan persahabatannya, yang berlebihan.


'Dengan kata lain, kalau dilibatkan lakukan dengan serius......begitu kan ?'

'Ah, kalau itu......'

'Dahulu, pada suatu event, kalimat itu dikatakan orang yang berlagak menggelikan dengan lumayan bodohnya'

'Eriri......'

'Yah, tapi sejak saat itu ia bersumpah "siapa yang akan mendengarkan permohonanmu ?"'

'Apa-apaan berpura-pura cerita sebaik itu yang sebenarnya cuma pelindung ?'


Karena dengan gampangnya dilibatkan, mau menemani apa pun......

Justru karena jika berusaha walau sedikit untuk menariknya jadi dengan gampangnya berjalan sesuai keinginan, jadi lupa bahwa ia tidak bergerak dengan kemauannya sendiri.


"Yang mengingatkanku, oleh-olehnya butter sandwich tidak apa-apa kan ?"

"Kumohon yang makanan favoritmu 2 kotak. Ah, karena kau yang bayar sekotak saja"

"Ahaha, aku mengerti......ah, tapi tanggal kedaluwarsanya ini satu minggu lagi ? hampir saja ya"

"Sebaiknya beli di bandara pas hari terakhir kan ?"

"Ah~......yah, begitu ya"

Tapi tidak apa-apa......

Pada mulanya aku berniat menyelesaikannya sendiri, aku mengerti kalau tidak ada kemungkinan berhasil selain itu.

Oleh karena itu, sejak saat ini pun, aku harus berusaha.

Karena proyek ini, awalnya dari hasratku saja, karena untuk memenuhi hasratku saja.

"Kalau begitu dah, Katou......"

"A ! Maaf, hanya satu lagi"

"Apa ?"

"Menurut Aki......yang mananya yang bagus padaku ?"

"......hah ?"

Katou yang tidak terlalu memberikan kecukupan diri, dengan pertanyaan yang katanya terakhir, mulai mengatakan hal yang tidak bisa dimengerti lagi.

"Ah, tidak, makanya ? menyenangkan saat melakukan hal semacam ini ~ atau, suka hal semacam ini ~, ah, atau sebaliknya, mana yang buruk ~ itu juga tidak apa"

"......Kau, sebenarnya lagi di rumah sakit saat ini ? Lalu, tepat sebelum menghadapi operasi sulit yang tingkat keberhasilannya 20%?"

Apa-apaan pertanyaan yang seperti tepat sebelum memasuki normal endingnya heroine penyakitan itu.

"Tidak, walau aku pun tidak berbohong sedramatis itu......bagaimana ?"

Yah, tapi, Karena Katou yang biasa itu diperiksa silang seperti ini pun sama sekali tidak bingung, sepertinya tidak ada tujuan yang benar-benar penting.

"Begitu ya......mmm, yang mana pun menyenangkan, lumayan"

Dalam beberapa hari ini, mengobrol di kafe, main game semalaman, bersama-sama melakukan perjalanan jauh, jika dipikir secara normal, berapa banyak sudah melakukan event yang hanya bisa dianggap seperti pasangan yang baru jadian.

Justru itu, hari-hari yang mewujudkan khayalan otaku menjijikan.

Alasan ini tidak menyenangkan......

"Jadi, tidak ada yang tidak memuaskan ?"

"Tapi yah, kalau aku boleh mengatakan hanya sedikit keinginan......"

"Kalau boleh mengatakan ?"

"......lebih menindas sedikit lagi, juga tidak apa-apa"

Meski demikian, hanya sedikit yang kubocorkan.

Hingga bisa mengalirkan maksud sebenarnya dengan mulus, tanpa melebih-lebihkan seperti biasanya.

"Errr, maksudnya itu, kau ingin aku jadi lebih jahat ?"

"Sama sekali tidak. Pokoknya dua orang yang seperti itu sudah cukup"

"Ng~......jadi apanya yang tidak ?"

"Nah Katou, makanya itu intinya......"

"Ah sudahlah, nanti akan kupikirkan sendiri"

"Apanya ?"

"Dah Aki"

"Ah......"

Katou yang diseret-seret sampai sekarang, hanya di akhir dengan tiba-tiba memutus percakapan secara sepihak.

......apa yang dipikirkannya katanya ?


※ ※ ※

Lalu hari berikutnya.

Kamis memasuki paruh kedua libur berurutan.

Hari ketika percobaan kembali kami mulai bergerak dengan serius pada akhirnya.

Judul:
Belum ditetapkan

......meski segera waktunya matahari condong ke barat, file teks yang ditampilkan di notebook yang ada di hadapan mataku, hanya berlanjut dua baris.

Apalagi selama itu, sudah 7 kali aku menjatuhkan diri ke tempat tidur.

Tapi, dengan kemauan kerasku, paling tidak aku tidak menyentuh remote control jahat untuk menyalakan anime atau game.

......yah, sebagai gantinya jadi lebih dari 10 jilid komik selesai kubaca.

Yang kupilih di saat seperti ini, mungkin aku sudah cenderung ke karya yang sampai kuingat kalimatnya dengan sempurna, yang seharusnya sudah lebih dari 10 kali kubaca sampai sekarang......


Judul:
Belum ditetapkan
Konsep karya:
Prolog:
Daya tarik karya ini:
Penokohan :
Heroine A (Nama belum ditetapkan)

Hari menjadi gelap, langsung lima baris berlanjut.

......tidak, aku mengerti. Kalau proposal hanya ada data tidak ada artinya.

Tetapi biar sekarang tergesa-gesa pun, tidak berarti ada ide yang keluar dari dalam kepalaku.

Alasannya jelas. Karena baru saja beberapa saat yang lalu, aku makan malam.

Sekarang karena darah yang seharusnya menuju ke otak semuanya terpusat ke perut, menghasilkan ide adalah tindakan yang sama sekali tidak ada artinya.

"Jadi, hanya 15 menit......"

Karena itu, berikutnya aku akan sedikit tidur sebentar, untuk membantu pencernaan.

Sungguh tidak mungkin mengantuk ketika pikiran mulai bergerak.

15 menit......tidak, tidur kira-kira 30 menit, paling baik untuk menyegarkan pikiran.

Jadi, hanya sebentar saja, selamat tidur.


Hari berikutnya lagi.

Hari kedua percobaan kembali kami, Jumat.

"......heh ?"

Dengan kata lain, perkembangan yang mengejutkan yaitu tanggal yang berubah ketika aku bangun......

Apalagi akibat membiarkan lampu menyala, aku tidak merasa telah tertidur pulas.

Atau, mengapa aku merasa seperti lebih ngantuk dari sebelum tidur......

"Fwaaaah~"

Jadi, aku membuka browser supaya tetap bangun.

Sudah waktunya mengecek pembaruan seperti biasa, juga ada berbagai hal yang ingin kuselidiki.

Yah, bagian yang telah tertidur hingga sekarang, mungkin bisa kudapat kembali dengan bekerja keras mulai kini hingga pagi.


"Wah, jam 4......"

Selama waktu yang lebih itu, mungkin aku sedikit terlalu keluyuran.

Berpindah-pindah dari pembaruan situs pantauan yang ditunggu sebelumnya ke twitter, 2chan, niconico, perjalanan di link yang terkait wikipedia. Tetapi itu tidak sia-sia. Bagaimana pun juga, ada hasilnya menyerap informasi yang sangat bisa dipakai.

Apalagi aku tidak lupa aku berpindah ke uncyclopedia[1] dan menyerap material.

Pada aktivitas produksi, usaha terus-menerus seperti ini perlu.

Walau tidak bertunas sekarang pun, ketika suatu saat memulai rencana berbeda, tentu akan berguna.

......yah, tapi ada perbedaan pendapat ketika terpojok seperti ini apa yang harus dilakukan atau tidak pada yang terkumpul itu.

"Jadi, apa yang akan kulakukan......"

Daripada itu, aku harus memikirkan cara menghabiskan waktu yang setengah-setengah yaitu jam 4 pagi ini.

Sekarang kembali ke proposal pun, langsung fajar menyingsing.

Kemudian hari ini, esok dan lusa pun masih hanya pertengahan dari pertarungan yang panjang.

Menghancurkan ritme kehidupan di sini adalah rencana gila.

"Ah, biar terpaksa pun aku cuma bisa tidur......"

Menjatuhkan diri ke tempat tidur, mematikan lampu dengan baik.

Ya, aku tidak akan lagi melakukan kebodohan seperti saat tidur sebentar setelah makan malam.

Sambil menutup mata, dengan cepat kususun kembali jadwal untuk esok dan seterusnya.

Supaya bangun pada waktu yang sama dengan hari kerja biasanya, esok.

Lalu pagi ini adalah percobaan kembali kemarin. Dari siang digabung dengan rencana hari ini, kembali on schedule sebelum malam.

Ya, masih ada waktu.


"Apa......apaan......"

Kenapa sudah siang ?

Kenapa tidak ada yang menyadarinya......bukan tempatnya memasukkan pertanyaan itu.

Karena sumpah untuk bangun pada waktu yang sama dengan hari kerja tidak tergambar pada jam beker.

Sayangnya, ini memang terjebak dalam lumpur.

"......aku akan menggerakkan badan sedikit"

Menggoyangkan pikiran yang kabur dengan bangun, untuk pertama kalinya dalam 2 hari aku turun ke ruang depan dan memakai sepatu.

Menghirup udara luar, harus membangunkan badan.


"Oh, buku baru"

Saat singgah di toko buku di tengah jogging, di rak datar ada tumpukan komik dan majalah yang dijual akhir April, seperti ada gunung harta di sana.

Tapi, sebenarnya ini bukanlah situasi yang tidak dapat diduga.

Penilaian tenang yaitu mungkin inspirasi akan menyembur jika sesuatu yang dicetak memasuki pandanganku.

Justru karena itu, aku susah-susah berjalan kaki ke kota sebelah, sampai toko buku yang komiknya tidak disegel dan boleh membaca sambil berdiri seperti ini......


Lagi lagi hari berikutnya.

Hari ketiga percobaan kembali kami, Sabtu.

......jumlah hari yang berubah sampai batas waktu, dua hari lagi.

"Uwaaaaaaaaaaaah!?"

Meski rasanya aku hanya menjalani waktu sebanyak membaca novel kira-kira 5 halaman, kejutan tanpa disadari 2 hari telah berlalu itu sesuatu yang tak terlukiskan.

Apalagi terkait yang ditampilkan di layar notebook, hanya 7 baris data menyala terang sama dengan 2 hari yang lalu......

Jadi, dari sekarang juga, aku tidak akan membiarkan lagi bahkan lari dari kenyataan.

Pertama mematikan sumber listrik wireless router LAN, menutup pintu masuk ke pantai internet.

Selanjutnya berturut-turut mematikan sumber listrik HD recorder dan TV, melarang masuk ke jalan gunung virtual.

Selanjutnya lagi menghamburkan paket game dan anime yang menumpuk di atas lantai dan tempat tidur (tapi juga bisa disebut mengembalikan kondisi saat meninggalkan begitu saja berminggu-minggu tanpa membersihkan), menyusun persediaan botol kopi di atas meja, menarik kapal yang mengundang ke negeri mimpi.

Nah, dengan ini tidak ada sisanya.

......biar mencurahkan 2 jam untuk persiapan itu pun, ini adalah langkah yang perlu, jika batas waktunya telah lewat seharusnya akan jadi cerita lucu.

Jadi, dari sini adalah pertandingan terakhir......

"......yoshh!"

Aku, menghirup nafas dalam-dalam hanya sekali, langsung menyelam pada pintu masuk satu-satunya yang tertinggal di kamar ini......dunia produksi.


"Aha, ahaha"

Kemudian, tampilan hari di jam dengan gembiranya jadi Senin......

Entah bagaimana, yang kurasa seperti Minggu berlalu dengan cepat, itu bukanlah imajinasiku.

Dengan kata lain, singkatnya 2 hari penuh...... sekitar 48 jam aku menempel di meja.

"Ahahahahah"

Jumlah hari yang berubah sebelum batas waktu......masih, sekitar 0,3 hari ?

File teks yang terbuka di depan mataku sekarang pun, jauh dari evolusi dramatis dari 7 baris......bahkan tidak melangkah maju ke baris 8 hebatnya umat manusia.

Tidak, satu baris pun tidak maju itu memang ungkapan yang salah.

Pengulangan dari berkali-kali, berkali-kali teksnya bertambah, kemudian dengan segera dihapus.

Jika lokasi produksi dahulu, tidak salah lagi bisa menggunung gumpalan kertas naskah di tempat sampah.

"Sisa, satu malam......"


Sudah kuduga setelah sampai sini, kata-kata yang kuhindari itu mengambang di pikiranku.

'Menyerah', memiliki gaung yang manis seperti candu, kata kerja itu......


Sungguh, bukan waktunya untuk masih kebingungan.

Dari sekarang pun, masih ada kemungkinan tepat waktu.

Kenyataannya, untuk beban kerja satu proposal itu satu malam pun waktu yang cukup mungkin.

Sebelumnya, pernah kutanya ke Kak Utahapengarang terkenal kenalanku.

Soal ide produksi, tidak harus selalu sesuatu yang bisa memakan waktu, tapi sebaliknya, hanya bisa membuat kualitas rendahan justru karena tidak ada waktu.

Di dunia, ada rencana dewa yang dibuat dalam satu malam.

Singkatnya, kekuatan imajinasi manusia tidak ada batas dan titik minimalnya......pada akhirnya, cerita terus terang tentang bisa atau tidak bisa tergantung bakat.

Dengan kata lain, yang coba kuterapkan padaku yang menoleh kebelakang......pada akhirnya kata 'menyerah' yang sama dengan tadi, yang sedikit demi sedikit merembes dalam kepalaku.


Dalam satu minggu ini, aku mengerti dan meresap dalam pikiranku soal aku tidak punya bakat.

Yaitu, tidak adanya bakat kreatif seperti yang ada pada kedua orang itu, juga mengenai bakat untuk mengusahakan yang ada pada kedua orang itu.

Tidak, mungkin tidak hanya pada satu minggu ini.

Sebelum awal tahun ajaran baru, ketika tergila-gila di awal pun, pada akhirnya plotnya tidak jalan.

Ketika menemui kembali Katou, bangkitnya keinginan menulis yang pernah hilang pun, yang jalan adalah karya buruk asal jadi yang sampai dihancurkan Eriri.

Apalagi, pemilihan temannya juga, memang seperti kata Katou, formasi pertarungan jauh dari kenyataan.

Teamwork kedua orang yang berkarakter buruk dan kepribadian kuat itu, tidak bisa dibayangkan.

......tapi membayangkan penampilan mereka berdua berteman baik itu semakin mengerikan.

Apalagi, apalagi......di atas semuanya, Katou pun kelihatannya tidak tertarik.

Seperti begitu, satu demi satu, dalam sekejap alasan menjejali kepalaku.

Jika hanya bicara jumlah teks, kira-kira sudah lama melebihi jumlah di proposal.


Tiba di sini, entah bagaimana, aku jadi mengerti......

Seandainya aku seorang diri menyerah, semuanya akan bahagia.

Asalkan aku menyerah......


'Menurut Aki......yang mananya yang bagus padaku ?'

'......hah ?'

'Ah, tidak, makanya ? menyenangkan saat melakukan hal semacam ini ~ atau, suka hal semacam ini ~, ah, sebaliknya, mana yang buruk ~ itu juga tidak apa'


Tapi kutanya yang sebaliknya.

Katou sendiri, tidak merasa senang kah ?

Denganku, membosankan kah......


'Er......Katou kan'

'Y, ya'

'Secara normal kau manis'

'Te-terima kasih. Tapi karena cukup tiba-tiba, rasanya tidak ada perasaannya'

'Ya, menurutku juga begitu. Makanya sekarang lupakan saja'

'Apa boleh menambah pesanan ? Perutku sedikit lapar'

'Ya, mintalah yang kau sukai. Hari ini semuanya aku yang traktir'

'Maaf ya, hmm......'


"......ng ?"

Itu, ingatan beberapa hari yang lalu.

Di kafe langsung setelah memenuhi pertemuan kembali yang tidak dramatis dengan 'gadis di atas tanjakan' itu, percakapan kami yang terlalu punya rasa aman.

Tetapi, ini, mungkinkah......?


'Er......Katou kan'

'Y, ya'

'Secara normal kau manis'

'T......ti, tidak, sebentar......eh, eeh~!?'

'Jangan menjawab dengan wajah tidak suka seperti itu. Karena aku memujimu'

'Ta, tapi ya, normalnya, apa kira-kira kau mengatakan hal semacam itu saat berhadapan tepat dengan anak perempuan yang pertama ditemui ?'

'Ah~, memang hal semacam itu kalau lawan bicaranya perempuan mungkin akan mundur ya ?'

'Daripada mundur, itu......'

'Tidak, aku yang kelihatannya tidak punya kesopanan tidak terlalu mengerti ketika mengatakan hal-hal itu'

'Haah, ya, kelihatannya kau sungguh tidak mengerti, sama sekali'

'Bukan, memang aku yang mengatakannya tapi kau tidak perlu menegaskannya tepat di hadapanku'

'Karena, pada awalnya "wajah tidak suka" itu sama sekali salah paham......'


"Eh ?"

Sedikit, moe ?

Padahal coba memainkan sedikit saja percakapannya ?

Hanya kalimat yang kukatakan sedikit lebih seperti anak laki-laki tak sensitif yang tulus.

Hanya Katou coba membalasnya sedikit lebih lugu......

"'Jangan menjawab dengan wajah tidak suka seperti itu......' errr......apa ini ?"

Oleh karena itu aku, mati-matian mengejar saat berdebar itu tiba.

Di dalam kamar, bergema suara sentuhan tuts yang lama tidak berbunyi.

Layarnya, dipenuhi dengan teks setelah beberapa hari.

Apa-apaan Katou.......

Hanya sedikit diusahakan, kau, jadi moe kan.


'Berjanjilah Katou......jangan pulang dulu'

'A,Aki......'

'Kumohon !'

'Yah sebenarnya, karena aku berkata mungkin akan telat ke rumah hari ini sebentar lagi tidak apa-apa'

'Setuju !?'


Sekali lagi, aku bertanya pada diriku sendiri.

Kenapa aku merasa ingin menjadikan Katou heroine galge......

Merasa coba menjadikannya manis, karakternya berdiri, memesona, siapa pun yang memainkan gamenya ingin menjadikannya 'istriku', heroine paling populer seperti itu.

......itu, karena Katou yang sekarang sayangnya tidak begitu, kan ?

Ketika bertemu dengannya, aku merasa takdir.

Meski begitu, takdir itu tertolak karena ia sendiri.

Oleh karena itu, takdir yang dikhianati, kucoba kembalikan ke semula dalam game......


'Kumohon !'

'......sudah kuduga, tidak bisa'

'Be, begitu ya......maaf, aku tiba-tiba mengatakan yang keterlaluan'

'Tsk, benar-benar keterlaluan, aku tidak percaya bisa mengatakan hal itu tiba-tiba !'

'Ta, tapi aku, benar-benar pada Katou !'

'Karena, aku tidak membawa pakaian dalam ganti !'

'......hah ?'

'Piama, sikat gigi, hair dryer juga......kalau begini esok pagi jadi mengerikan !'

'Eh, apa yang kau katakan ?'

"Bukan soal apa yang kukatakan ! Anak perempuan punya macam-macam yang dipersiapkan !'

'Tapi, jika mengatakan hal itu sampai kapan pun berlalu......'

'Makanya......berikutnya, kapan-kapan ajak ya ?'

'Eh......'

'Karena lain kali aku akan membawanya dengan tepat. Persiapan menginap'

'Ka, Katou ?'

'Oleh karena itu Aki......Tomoya juga, mempersiapkannya dengan tepat'

'Pe, persiapan apa......?'

'Panggil namaku......Megumi, siap-siap ya ?'


Begitu ya......akhirnya aku mengerti sekarang.

Aku, patah hati, dengan Katou.

Dengan ditolaknya kesan yang kubayangkan.

Karakternya tidak berdiri, periang, tidak bermain-main dengan otaku, tetapi toleran......

Diperlihatkan "seorang teman" yang terlalu ideal seperti itu, ditolak cintanya dengan baik hati.


'Yang aneh itu Aki'

'Makanya, padahal kukatakan tidak boleh membicarakan keanehannya di depan orangnya sendiri~'

'Ilustrator populer juga pengarang terkenal......yang di sekitar Aki itu, kenapa hanya ada orang-orang seperti ini ?'

'Tidak, begini ya, karena di situ ada Katou yang tidak punya keistimewaan apa pun bukannya keseimbangannya jadi pas'

'Karena sekarang bagiku tidak apa-apa. Maksudku kau tidak perlu menggunakanku dalam lelucon dengan paksa'

Makanya, di dalam game, aku ingin bertemu dengan Katou yang berbeda.

Hal itu, tindakan kompensasi mewujudkan dalam game mimpi yang tidak terwujud di kenyataan......

Bukannya itu dasar produksi yang sempurna ?


'Yang aneh itu Tomoya'

'Kenapa aku !?'

'Ilustrator populer pada pengarang terkenal......apalagi keduanya gadis yang manis !'

'Tidak, abaikan pekerjaan, manis atau tidak manis sekarang tidak ada hubungannya kan ?'

'Tapi kalau gadis ada hubungannya kan ? Apalagi sampai sekarang kau menyembunyikannya dariku ?'

'Biar aku mengatakan hal semacam itu pun, maksudku aku fans karyanya dan pengarangnya tidak ada hubungannya'

'Selain itu, selain itu, kau juga menyembunyikan kalian berdua ada di sekolah yang sama !'

"Makanya, itu yang merahasiakannya yang di sana......'

'Selain itu, selain itu, selain itu, wajah Tomoya ketika membaca buku ini ! Gembira, senang, kadang menderita, menangis......padahal ketika denganku pun, jarang memberikan wajah seperti itu !'

'Jangan cemburu sampai dengan karyanya lah......'


Begitu ya......

Aku, ingin ngobrol memalukan seperti ini dengan Katou.

Walau obrolan biasa pun menyenangkan seperti ia, tapi, aku ingin lebih, obrolan yang menekan yang tidak seperti ia.

Tidak hanya senang, aku juga ingin merasakan sakit.

Aku ingin jantung lebih berdebar-debar.

Aku juga ingin kecemburuan dan mencemburui.

Sangat moe......


※ ※ ※

"......selesai"

Waktu, jam 7 pagi.

Dari luar jendela matahari bersinar terang, efek suara kicauan pagi pun terdengar.

Bukan, suara burung pipit normal.

Pada Senin akhir libur berurutan yang indah ini, akhirnya itu selesai.

Tidak, daripada disebut selesai derajat penyelesaiannya terlalu rendah, format proposalnya sama sekali tidak teratur.

Bagaimana pun juga, judulnya masih sama 'belum ditetapkan'.

Genrenya pun, setelah selama ini hanya sebaris 'Adventure cinta sejati'.

Penokohannya sebaris 'berdasarkan Megumi Katou kelas 2-B' yang lebih sembarangan dari sebelumnya.

"Jadi juga......ts"

Biarpun begitu, jika dilihat dariku, tidak salah lagi itu sudah 'selesai'.


Dari penjelasan konsep game yang terlalu sederhana berubah seluruhnya, setelah itu teks berbentuk obrolan protagonis dan heroinenya yang terus-menerus berlanjut.

Singgah sepulang sekolah, kegiatan ekskul di kelas sepulang sekolah, main game semalaman, maraton anime, pergi sekolah bersama, kencan liburan, jalan-jalan di depan stasiun, perkelahian di kafe, panggilan jarak jauh dari perjalanan, lalu pertemuan kembali setelah satu minggu dan cerita perjalanan yang terkumpul.

Pertemuan tanpa sengaja, obrolan pertama yang canggung, saat tentram, malam ketika dengan asyiknya bercerita, pagi yang disambut dengan kantuk, 'selamat pagi' yang sedikit kaku daripada sekarang, keterlambatan 3 menit yang sangat dimarahi, tangan terhubung dengan sendirinya, air mata pertama, kesepian yang saling diceritakan, keindahan yang saling diceritakan......

Di kenyataan, event yang tidak satu pun terjadi.

Mungkin saja, hanya dengan sedikit salah menekan tombol eventnya mungkin terjadi.

Jika dilihat dari sekitar, sama sekali membosankan, obrolan yang penuh dengan rasa puas diri.

Tetapi, bagi protagonis dan heroinenya, tidak satu pun yang tanpa makna, pembicaraan yang tak tergantikan.

Yang bisa dikatakan selesai, hanya contoh teks seperti itu.

DIlihat seluruhnya pun, benar-benar bukan proposal game.

Tetapi, ini cukup.

Karena ini game yang ingin kubuat, makanya isinya bisa dikatakan dengan bangga......


"Aku per~gi"

Akhirnya tanpa tidur sedikit pun seperti ini, aku keluar rumah lebih cepat satu jam dari biasanya.

Mengerti jika tidur sebentar saja akan terlelap sampai sore, aku ingin pergi ke sekolah secepat mungkin sekarang di atas semuanya.

Soalnya, karena secepat mungkin, aku ingin memperlihatkan pada kedua orang itu plot yang sudah selesai.

Tidak, hanya sedikit salah.

Sekarang, orang yang ingin kuperlihatkan ini paling awal sebenarnya ada.


Seandainya ia membaca teks yang cuma bisa diidentifikasi sebagai parodi dan seperti berkata 'aku akan menjadikanmu bahan untuk dipikirkan[2]' ini, entah kesan apa yang dirasakannya.

......yah, bagaimana pun juga karena orang itu mungkin aku hanya bisa sedikit mundur.

Lalu, tidak salah lagi akan membalas dengan reaksi tenang berkata macam 'Ini pun tidak ada kan ?'.

Merasa sedikit terlalu rindu setelah satu minggu pada rasa aman dan rasa menghindar itu, aku semakin memberikan tenaga pada kaki yang mengayuh pedal.

Lalu, seperti itu aku belok kiri mengikuti jalan sambil sesaat menambah kecepatan, bidang pandanganku atas-bawah kiri-kanan langsung terbuka saat mendekati turunan tajam.

Dengan kata lain di sana, tanjakan detektif yang biasa......

"Eh......?"

Ketika mulai menuruninya, tanpa sengaja aku mengeraskan suara terkejut.

Bukan karena angin kuat yang tiba-tiba bertiup dari belakangku.

Bukan pula karena bertebarannya daun bunga sakura yang terlalu tak sesuai dengan musim.

Dan tentu saja, bukan pula karena matahari yang terlalu kuning......


Pott, tott......berguling-guling.


"............eh"

Yang lebih besar, lebih dekat dari matahari itu, berhenti di depan mata, putih bulat sempurna, benda bergerak yang telah dikenali.

"Ah, ah~! Berhenti !"

"..................eh"

Lalu dari belakangku, sampai suara kebingungan, yang tidak bisa menaiki angin yang sama sekali tidak bertiup.

"Sudah kuduga, sama sekali tidak bisa dengan cara yang sama ya"

"Ah......"

Yang berhenti tepat di tengah jalan, topi baret putih.

Lalu, yang berdiri diam di atas tanjakan, sang pemiliknya.

"Sudah lama ya. Kita......bertemu lagi. Benar-benar tak disangka. Ya kan ? Ahaha......"

"Ka, Katou......?"

......seperti tiba-tiba, senyumnya yang berseri-seri.

"Eh ? Kau mengenalku dengan baik ya......Tomoya Aki"

Kucoba memanggil namanya, tapi kemudian namaku dipanggilnya......

Tapi, Megumi Katou itu, sama sekali lain dari biasanya.

Senyum itu juga, gaya bicara yang agak memesona juga, isi kata-kata seperti dipenuhi dengan perasaan juga.

Tetapi tidak salah lagi, ia adalah Katou yang kukenal......tidak, gadis saat itu.

Karena, baret putih yang berguling di tanjakan, gaun one-piece putih yang melayang kena angin, kemudian putih......

"Ka, Katou......? Ada apa ini"

Apa-apaan ini......?

Ilusi yang diperlihatkan otakku yang tidak tidur 3 hari kah, atau kenakalan jiwa sakura yang familier ?

"Itu, ini......mengulang kembali takdir"

"Mengulang kembali......?"

Ia yang bergaun one-piece putih, terlihat sedikit ragu-ragu, menyisir rambutnya ke atas.

Tapi, itu lain dari gerakannya yang biasanya.

Tapi, gerakannya luar biasa cocok untuknya yang sekarang.

"Saat itu, meski dengan susah payah bertemu secara dramatis, setelah itu kita jadi tidak dramatis, tambahannya untuk itu ?"

"Tambahan......"

Mengulang kembali, tambahan......mencoba lagi, retry.

Itu, mengingatkanku dengan tujuan seperti yang kudengar entah di mana baru-baru ini.

"Mari kita buat ? Cerita dua orang setelah ini......mari kita buat bersama"

Jangan-jangan, ini......

"Nah, sekali lagi, dari yang beberapa saat lalu ya ?"

Kata Katou di depanku, berkeliling memutar.

Keliman roknya bergoyang dengan lembut, mencuri nafas, hati dan mataku.

"Hee, kau sudah mengenalku......aku gembira, karena kurasa aku sama sekali tidak menonjol"

"Ah, tidak, itu......"

"Aku juga, mengenali dirimu, Tomoya Aki ?"

"Eh......"

"......itu, sudah jelas. Kau lain denganku, orang yang luar biasa terkenal"

"............"

Begitu ya.

Memang, ini......

"Orang yang memanfaatkan keadaan dari kelas 2-B, antusias yang tak tertolong, orang terpopuler di sekolah......"

"......apa-apaan itu, kejam"

"Ahaha, karena bukan aku yang mengatakan itu"

Anak bermasalah, otaku sialan, bahan tertawaan......aku mengerti, ini gaya bicaranya.

Membuang ekspresi terus terang, susunannya menuju ke arah moe.

"Ah, begitu ya......aku harus berterima kasih"

"Tidak apa-apa, itu......"

"Hey, bisa sedikit membungkuk ?"

"Eh ? Seperti ini kah ?"

Oleh karena itu, mengulang kembali.

Permainan peran, untuk pertemuan kembali ideal kami.

"Ng~ sedikit lebih ke bawah. Setinggi pandanganku"

"Be, begini ?"

......ya, ini, sama denganku malam tadi.

"Nah, tutup matamu"

"Na......"

"Cepat !"

"Ya, ya !"

Apalagi, protagonisnya......

"............"

"............"

"............"

"......o, oi, Katou ?"

"Ya ! Sudah boleh buka mata !"

"Makanya ada apa......"

"......pu"

"Pu ?"

"Ti, tidak coco~k !"

"Eh ? Eh ?"

Yang ditunjuk jari Katou......ketika aku menyentuh kepalaku, di sana terasa sensasi bulu kempa.

Ketika kuambil, itu, seharusnya topi beret yang kuangkat dan kukembalikan ke Katou beberapa saat lalu.

"Ahahahahah, maaf, kalau ini aku pun tidak bisa melindunginya"

"Je, jelas saja ! Ini kan barang perempuan !"

"Fufuu, jika dipikir memang begitu ya, fufufufufuu"

"Ka, kauu, terlalu banyak tertawa !"

Mengambil kembali baret yang menutupi kepalaku, masih tertawa sembari kembali memakainya sendiri.

"Maaf maaf, kalau begini, aku harus berterima kasih dalam bentuk lain"

"Tidak, makanya terima kasih itu......"

"Nah, karena aku menerima request katakan apa saja"

"......tte, eeh !?"

"......walau aku tidak bisa menjanjikan melakukan apa saja, aku akan melakukan sebisanya ya ?"

Gerakan seperti kenakalan itu, suara yang lebih jernih dari biasanya, senyum dari lubuk hati juga.

Digabung dengan permintaan yang masih sangat bisa dikhayalkan itu, menembus berbagai bagianku.

"Ti, tidak, tunggu sebentar, semendadak ini......"

"Nah, dalam 5 detik. Kalau lewat batal"

Sepenuhnya, ditangkap langkahnya oleh Katou......heroine.

"4~"

"Tu, tunggu sebentar !"

"Ti~ga"

"Padahal kubilang tunggu !?"

"Du~a"

"Makanya, kesiapan mentalku......"

"Saaaa~~~~~~"

"......a"

Tetapi, protagonis yang terus-terusan pamer sampai kapanpun itu tidak menarik.

"Aaaa~~~~~~~"

"............"

Maksudku, kalau begitu ceritanya tidak berlanjut ke depan.

Oleh karena itu, tentunya, di sini......

"~~~~~~~t ! Ha~, ha~, haaaaah~"

"......tidak apa-apa kah ?"

"!?"

Lihat, pilihan time out, tidak disiapkan.

"Kalau begitu, sekali lagi request tidak apa-apa kan ?"

"......ya, silakan !"

"Nah, Katou......"

Oleh karena itu, aku, pada permintaan yang masih sangat-sangat bisa dikhayalkan itu, menjawab dengan request yang masih sangat-sangat bisa dikhayalkan.

"Jadilah, heroine untuk karyaku"

"Eh......"

Catatan kasar macam 'Model main heroine doujin game yang kubuat' tak perlu dimasukkan.

Seperti biasanya, terlalu bergegas dengan materialnya pun tidak perlu.

Sebatas ini, jika kulepaskan perasaan dan kata-kata menyakitkan aku sedikit melakukannya......

"......begitu, ya, baiklah"

"Katou......"

RuteJalannya terbuka.

"Entah bagaimana, sepertinya itu menyenangkan. Aku jadi geregetan"

"Ah......berjanjilah. Kita akan melakukan hal yang menarik berdua ?"

Tapi, itu hampir sama dengan keputusan seketika waktu itu.

Kemudian, aku mengerti, keputusan kali ini adalah akting.

"Sepertinya akan jadi hari-hari yang menyenangkan setelah ini, Tomoya......boleh memanggil seperti itu kan ?"

Biarpun begitu, kejutan yang diterima dadaku terlalu berbeda dari saat itu.

"Nah, aku juga boleh Megumi ?"

"Itu......tetap Katou saja"

"Kenapa ? Tak bisa dimengerti, padahal kau boleh memanggilku dengan namaku sendiri !"

"Masalahnya......karena Tomoya juga dipanggil anak perempuan dengan nama jadi tidak apa-apa, tetapi anak laki-laki yang memanggilku dengan nama, tidak ada yang lain kan ?"

"Tidak mau, kesetaraan gender. Aku harus memanggilmu Megumi"

"Eh, eeh ~!?"

"Bagaimana pun juga, kalau kau tidak suka kupanggil dengan nama akan kuhentikan. Tapi saat itu, panggil aku Aki"

Padaku yang biasa, membuat jatuh hati.

Lalu padaku hari ini, membuat berdebar-debar.

"......jahatnya, Tomoya"

"Terima kasih atas jawaban yang positif, Megumi"

Saat dengan Katou yang seperti itu, menyenangkan, sampai meledak jantung.

Aku ingin melakukannya, tetapi tidak bisa kami lakukan.

......karena percakapan yang ingin kumunculkan lagi dalam game, ada di sini.

"Kalau begitu, dengan ini kontraknya dimulai ya. Setelah ini pun, semoga sukses ya, Tomoya"

"Nah, bukti kontraknya......"

"Eh ? Eh ?"

Lalu, event yang ingin kumunculkan lagi dalam game pun......

"Megumi......"

Kami yang saling tertawa dengan jarak yang hampir tidak ada, semakin mempersingkat jarak.

Ya, sampai "hampir" jadi tidak ada.

"Eh, bohong, katanya tidak seperti ini......"

"Kata siapa ?"

Biar katanya beda pun, apa boleh buat.

"Ka, karena katanya Aki sama sekali tidak bernafsu pada tiga dimensi......"

Bagaimana pun juga, itu karena aku yang sekarang ditambahkan penokohan yang terpikir saat ini.

"Sebentar, sebentar saja, ujungnya......tidak, satu detik saja"

"Kalau melakukannya satu detik saja akan jadi sempurna kan !?"

Maharaja yang sedikit tidak masuk akal. Anak yang sedikit manja. Lalu, sedikit......mesum.

Sungguh-sungguh tidak mirip denganku......mungkin, tipikal protagonis galge.

"Karena itu, hey, tutuplah matamu"

"Eh, tidak, ueeh ?"

Tapi, kalau tidak ada jalan lain ya, sudah tidak ada jalan lain lagi.

Bagaimana pun juga, aku tidak tidur 3 hari.

Karena itu, maksudku. Mohon maaf jika khayalanku jadi sedikit liar......

"Apanya yang hanya sedetik dasar protagonis terendaaaaaaaaaaah~~!!!"

"Ugaaaaaaaaaaaa~~~!!!"

Bersamaan dengan suara itu, kejutan luar biasa di leherku dan terdengar suara nyaring rem di telinga.

Yah, orang yang memutuskan melakukan lariat[3] sepeda sambil mengebut dengan kecepatan penuh di turunan curam ini, hanya tetangga yang telah tinggal di kota ini sejak aku masih anak-anak sama denganku......

"Maafkan aku Katou, aku hanya sedikit menduga kalau orang ini riajuubinatang sungguhan[4] yang tidak pandang bulu seperti ini"

Lalu, orang yang membawa contoh yang menggelisahkan seperti ini dengan kata-kata yang seakan-akan mengerti segalanya, hanya seorang pengarang bermulut rampus yang terus-menerus mencari kosakata atau material baru......

Sembari menerima berbagai serangan seperti itu, pelan-pelan kesadaranku mengabur. Terutama karena rasa kantuk.

Ngomong-ngomong, Megumi yang terlihat di pandanganku tepat sebelum aku jatuh......Katou, seperti menutup matanya dengan penuh ketakutan.

......sungguh, kau teman yang terlalu baik.
Download Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1] , Nonton Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1] , Download Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1] 480p , 360p , MKV , Nonton & Download Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1] Lengkap , Download Anime Subtitle Indonesia , Nonton anime subtitle indonesia , Download & Nonton Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1] Lengkap , Download Anime Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1] 480p , Download Anime Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1] 720p , Download Anime Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1] 360p , Nonton Anime Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1] , Streaming Anime Subtitle indonesia , Streaming anime Saenai Heroine no Sodatekata (Indonesia):Jilid 1 Bab 6 [END Jilid 1]

Update Lainnya

No comments